4 Pemenang Best National Costume Miss Grand International 2026, Angkat Cerita Budaya Berbeda
Ajang Miss Grand International 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan untuk memperebutkan mahkota utama, tetapi juga menjadi panggung bagi para finalis untuk memperkenalkan identitas negara melalui busana. Salah satu penghargaan yang mencuri perhatian adalah Best National Costume, yang diberikan kepada peserta dengan kostum nasional pilihan penyelenggara.
Pada malam grand final yang berlangsung di MGI Hall, Bangkok, Thailand, Sabtu (10/10/2026), penghargaan tersebut diberikan kepada empat wakil, yakni Angelica Lopez dari Filipina, Patthama Jitsawat dari Thailand, Yolanda Xubin dari Hong Kong, dan Zara Younus dari Pakistan.
Keempat kostum itu menghadirkan pendekatan yang berbeda. Ada yang menggali cerita rakyat dan unsur mistis, mengangkat tradisi masyarakat agraris, menampilkan sosok yang dihormati dalam kepercayaan maritim, hingga memberikan penghormatan kepada atlet berprestasi.
Perbedaan tema tersebut memperlihatkan bahwa kostum nasional dalam kontes kecantikan tidak selalu harus berangkat dari pakaian tradisional. Busana juga dapat menjadi medium untuk menceritakan sejarah, kepercayaan, dan figur yang memiliki arti penting bagi masyarakat.
1. Angelica Lopez, Filipina, Angkat Cerita Rakyat Ang Mangkukulam
Angelica Lopez berhasil membawa pulang penghargaan Best National Costume melalui kostum bertajuk Ang Mangkukulam. Busana ini terinspirasi dari sosok mangkukulam yang dikenal dalam cerita rakyat Filipina dan berkaitan dengan gambaran praktik sihir atau ilmu mistis.
Penampilannya menghadirkan visual yang dramatis. Salah satu elemen yang menonjol adalah figur perempuan berukuran besar di bagian belakang, sementara Angelica tampil menyerupai boneka voodoo dengan detail jarum dan mata menyerupai kancing.
Konsep tersebut membawa unsur misteri dan folklor ke panggung Miss Grand International 2026. Alih-alih menampilkan representasi budaya yang sepenuhnya anggun atau meriah, kostum Filipina memilih pendekatan visual yang lebih gelap dan teatrikal.
Inspirasi Ang Mangkukulam juga memperlihatkan bagaimana cerita yang berkembang dalam masyarakat dapat diterjemahkan menjadi karya busana kontemporer. Unsur yang berasal dari kepercayaan dan kisah turun-temurun diolah menjadi penampilan yang mudah menarik perhatian penonton.
Kemenangan Angelica menjadi salah satu sorotan dalam sesi kostum nasional tahun ini. Namun, daya tarik kostumnya tidak hanya terletak pada ukurannya, melainkan juga pada keberanian mengangkat tema cerita rakyat yang memiliki karakter kuat.
2. Patthama Jitsawat, Thailand, Tampilkan The Royal Buffalo of Siam
Sebagai wakil tuan rumah, Patthama Jitsawat membawa kostum bertajuk The Royal Buffalo of Siam. Desain tersebut terinspirasi dari tradisi kerbau di Chonburi, Thailand, yang menggambarkan hubungan erat antara masyarakat, terutama petani, dengan hewan yang memiliki peran penting dalam kehidupan agraris.
Kerbau sejak lama dikenal membantu manusia dalam pekerjaan pertanian. Karena itu, tema yang diangkat Patthama tidak sekadar menampilkan sosok hewan, tetapi juga menyampaikan gambaran mengenai ketekunan, kesabaran, dan hubungan manusia dengan alam.
Dalam konteks kompetisi kostum nasional, inspirasi semacam ini memberi ruang untuk mengenalkan tradisi lokal yang mungkin belum banyak diketahui penonton internasional. Budaya tidak selalu harus ditampilkan melalui busana kerajaan atau simbol-simbol monumental. Kehidupan sehari-hari masyarakat juga dapat menjadi sumber gagasan yang kuat.
Melalui The Royal Buffalo of Siam, Patthama memperkenalkan salah satu sisi budaya Thailand dengan pendekatan visual yang berangkat dari tradisi agraris. Penghargaan yang diraihnya sekaligus menambah kebanggaan bagi negara tuan rumah Miss Grand International 2026.
3. Yolanda Xubin, Hong Kong, Terinspirasi Sosok Dewi Laut Mazu
Wakil Hong Kong, Yolanda Xubin, juga masuk dalam jajaran penerima Best National Costume melalui kostum yang terinspirasi dari sosok Mazu, yang dikenal dalam tradisi kepercayaan masyarakat Tionghoa sebagai pelindung laut dan para pelaut.
Mazu dikaitkan dengan Lin Mo, sosok perempuan yang dalam kisah tradisional dipercaya hidup pada abad ke-10 di Pulau Meizhou, Fujian, Tiongkok. Setelah wafat, ia dihormati sebagai figur pelindung bagi pelaut, nelayan, dan orang-orang yang melakukan perjalanan melalui laut.
Kisah tersebut memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat pesisir yang sejak dahulu bergantung pada laut untuk bekerja, berdagang, dan bepergian. Kepercayaan terhadap sosok pelindung laut menjadi bagian dari tradisi spiritual yang berkembang di berbagai komunitas.
Kostum Yolanda didominasi warna merah, sehingga menghadirkan penampilan yang mencolok di panggung. Pilihan tema ini berbeda dari Filipina yang mengangkat cerita rakyat bernuansa mistis maupun Thailand yang menyoroti tradisi agraris.
Melalui inspirasi Mazu, kostum Hong Kong membawa tema perlindungan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan laut ke dalam kompetisi internasional. Meski wakil Hong Kong tidak berhasil menempati posisi utama dalam kompetisi, penghargaan kostum nasional menjadi pencapaian tersendiri baginya.
4. Zara Younus, Pakistan, Beri Penghormatan kepada Arshad Nadeem
Berbeda dari tiga pemenang lainnya, Zara Younus dari Pakistan memilih inspirasi yang berkaitan dengan prestasi olahraga. Kostum nasionalnya didedikasikan untuk Arshad Nadeem, atlet lempar lembing Pakistan yang meraih medali emas pada Olimpiade Paris 2024.
Kemenangan Arshad memiliki arti penting bagi Pakistan karena ia menjadi peraih medali emas Olimpiade individu pertama dari negara tersebut. Prestasi itu membuat namanya menjadi salah satu figur olahraga yang mendapat perhatian luas di negaranya.
Mengangkat sosok atlet sebagai inspirasi kostum nasional memberikan pendekatan yang berbeda. Identitas negara tidak hanya dibentuk oleh pakaian tradisional, mitologi, atau peninggalan sejarah, tetapi juga oleh pencapaian masyarakatnya di bidang olahraga.
Dalam konteks tersebut, kostum Zara menjadi bentuk penghormatan terhadap kerja keras dan prestasi yang membawa nama Pakistan ke panggung dunia. Konsep ini juga memperlihatkan bahwa national costume dapat menyampaikan pesan tentang kebanggaan nasional melalui figur yang dikenal masyarakat modern.
Pencapaian Zara semakin istimewa karena Pakistan untuk pertama kalinya berhasil meraih penghargaan kostum nasional terbaik di Miss Grand International. Kemenangan ini menambah variasi cerita yang dihadirkan dalam penghargaan tahun 2026.
National Costume sebagai Panggung Cerita Identitas Negara
Empat pemenang Best National Costume Miss Grand International 2026 memperlihatkan bahwa satu panggung dapat menampung banyak cara untuk menyampaikan identitas budaya. Filipina memilih cerita rakyat yang penuh misteri, Thailand mengangkat tradisi masyarakat agraris, Hong Kong menghadirkan sosok pelindung laut, sedangkan Pakistan memberikan penghormatan kepada atlet nasional.
Keempatnya memiliki titik berangkat yang berbeda, tetapi sama-sama menggunakan busana sebagai media bercerita. Detail desain, pemilihan warna, bentuk kostum, dan tokoh yang menjadi inspirasi membantu menyampaikan pesan kepada penonton dari berbagai negara.
Penghargaan ini juga menunjukkan bahwa representasi budaya dalam kontes kecantikan dapat melampaui penggunaan pakaian tradisional secara harfiah. Cerita rakyat, kepercayaan, kebiasaan masyarakat, hingga prestasi modern dapat diolah menjadi konsep yang memiliki identitas kuat.
Pada akhirnya, daya tarik kostum nasional bukan hanya terletak pada kemegahan visualnya. Latar belakang dan cerita di balik desain menjadi bagian penting yang membuat penampilan tersebut memiliki makna lebih luas. Melalui empat pemenang tahun ini, Miss Grand International 2026 kembali menghadirkan panggung bagi beragam kisah yang merepresentasikan kebanggaan negara masing-masing.
Baca Juga
Angela Lillo Masuk Top 25 Miss Global 2026, Thailand Raih Mahkota
Teen Universe Hidalgo Favorite 2026 Announces Fan Favorites Across Four Categories, Featuring Camila Paulin and Jovana Zepeda
Nakita Azoya Unggul di Voting Pemilihan Boys & Girls 2026; Kreen Indonesia Kawal Dukungan Masyarakat