| 26 Agustus 2026

24 Atlet Tuli Indonesia Galang Dana Rp700 Juta untuk Bertanding

T
  • Team KREEN
Recommended Topics
5 Popular News

Sumber foto: @kontingentuli.indonesia,

Sebanyak 24 atlet Tuli Indonesia tengah menghadapi tantangan di luar arena pertandingan. Bukan soal lawan yang harus dikalahkan atau strategi yang harus disiapkan, melainkan persoalan biaya keberangkatan menuju kompetisi internasional.

Kontingen Tuli Indonesia kini melakukan galang dana atlet Tuli dengan target sekitar Rp700 juta. Dana tersebut dibutuhkan agar 24 atlet dapat berangkat ke Penang, Malaysia, untuk mengikuti Asia Pacific Deaf Multi-Sport Championships 2026 (APDMSC 2026) yang dijadwalkan berlangsung pada 2 sampai 10 Oktober 2026.

Kabar mengenai perjuangan tersebut menjadi perhatian setelah para atlet dan pengurus kontingen terlihat turun langsung ke masyarakat melalui aksi penggalangan dana di kawasan Car Free Day (CFD). Mereka membawa pesan sederhana, yakni meminta dukungan masyarakat agar kesempatan untuk membawa nama Indonesia di tingkat Asia Pasifik tidak terhenti karena persoalan biaya.

Bagi para atlet, tampil di Malaysia bukan sekadar mengikuti pertandingan. Keberangkatan tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan atlet Tuli Indonesia di level internasional sekaligus membawa nama Merah Putih dalam kompetisi olahraga disabilitas.

24 Atlet Tuli Indonesia Siap Bertanding di Empat Cabang Olahraga

Kontingen Tuli Indonesia akan diperkuat 24 atlet yang turun dalam empat cabang olahraga. Mereka dipersiapkan untuk bertanding dalam bulu tangkis, catur, atletik, dan bowling pada APDMSC 2026 di Penang.

Persiapan untuk menghadapi kompetisi tersebut telah dilakukan. Namun, persoalan pendanaan kemudian menjadi hambatan yang harus dihadapi kontingen. Kebutuhan biaya tidak hanya berkaitan dengan tiket perjalanan menuju Malaysia, tetapi juga berbagai kebutuhan lain yang melekat pada keikutsertaan dalam kompetisi internasional.

Kontingen memperkirakan kebutuhan dana mencapai Rp700 juta untuk membiayai keberangkatan atlet, pelatih, serta ofisial. Kebutuhan tersebut mencakup sejumlah keperluan seperti pendaftaran, pengurusan dokumen perjalanan, tiket pesawat, perlengkapan pertandingan, akomodasi, hingga konsumsi selama berada di Penang.

Artinya, target Rp700 juta bukan semata-mata dana untuk membeli tiket pesawat. Angka tersebut merupakan kebutuhan keseluruhan agar para atlet dapat menjalani rangkaian pertandingan dengan kondisi yang layak.

Kondisi ini pula yang membuat kontingen kemudian mengambil langkah penggalangan dana secara mandiri.

Dari Pengajuan Bantuan hingga Turun Langsung ke CFD

Sebelum membuka donasi atlet Tuli Indonesia, berbagai upaya disebut telah dilakukan untuk mendapatkan dukungan pendanaan. Kontingen mengajukan permohonan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sebagai salah satu pihak yang berkaitan dengan pembinaan olahraga nasional.

Namun, menurut keterangan komunikator Kontingen Tuli Indonesia Tolibul Hadi yang dikutip Jawa Pos, dukungan tersebut belum dapat diberikan karena alasan efisiensi anggaran. Kontingen juga disebut telah menyampaikan surat melalui Komisi Nasional Disabilitas.

Upaya mencari bantuan kemudian dilanjutkan melalui sektor swasta. Sekitar 100 proposal disebut telah disebarkan kepada sejumlah perusahaan untuk mendapatkan dukungan melalui skema kerja sama maupun corporate social responsibility (CSR). Akan tetapi, usaha tersebut belum menghasilkan pendanaan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, penggalangan dana kepada masyarakat menjadi salah satu jalan yang ditempuh.

Langkah tersebut membuat para atlet dan pengurus kontingen turun langsung ke ruang publik. Salah satunya melalui kegiatan Car Free Day. Selain membuka ruang donasi, mereka juga berinteraksi dengan masyarakat dan memperkenalkan keberadaan komunitas Tuli serta perjuangan para atlet yang akan bertanding di Malaysia.

Aksi tersebut kemudian menarik perhatian publik di media sosial. Foto dan video mengenai kontingen atlet Tuli Indonesia yang menggalang dana untuk mengikuti kompetisi internasional beredar luas dan memunculkan berbagai respons.

Di satu sisi, masyarakat memberikan dukungan terhadap perjuangan para atlet. Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai bagaimana dukungan terhadap atlet disabilitas, khususnya mereka yang akan membawa nama Indonesia dalam kompetisi internasional.

Target Rp700 Juta, Perjuangan Belum Berakhir

Penggalangan dana dilakukan dengan target Rp700 juta. Berdasarkan informasi yang disampaikan kontingen, dana tersebut akan digunakan untuk memastikan 24 atlet dan tim pendukung dapat memenuhi kebutuhan keberangkatan hingga mengikuti pertandingan di Penang.

Dalam materi penggalangan dana yang beredar, masyarakat diajak ikut mendukung perjuangan kontingen menuju Malaysia. Mereka juga menyediakan informasi mengenai saluran donasi melalui akun resmi Kontingen Tuli Indonesia.

Perjuangan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan seorang atlet menuju kompetisi internasional tidak selalu berhenti pada latihan dan pertandingan. Bagi sebagian atlet, tantangan besar justru muncul sebelum mereka tiba di venue.

Bagi 24 atlet Tuli Indonesia, persoalan biaya kini menjadi bagian dari perjuangan yang harus mereka lewati. Mereka tetap berusaha menjaga kesempatan untuk bertanding meski dukungan pendanaan yang diharapkan belum sepenuhnya tersedia.

Sorotan publik kemudian semakin besar setelah muncul perbandingan dengan sejumlah pos anggaran di lingkungan Kemenpora. Suara.com memberitakan bahwa warganet menyoroti data pengadaan pemerintah yang mencantumkan anggaran sekitar Rp2,4 miliar untuk sejumlah kebutuhan, termasuk sekitar Rp1,3 miliar untuk jasa sewa kendaraan dinas jabatan pejabat eselon I serta pos konsumsi sekitar Rp198,35 juta. Angka tersebut menjadi bahan kritik di media sosial di tengah perjuangan kontingen mencari dana Rp700 juta untuk berangkat bertanding.

Namun, perbandingan tersebut merupakan sorotan publik terhadap data anggaran, bukan berarti seluruh pos tersebut secara langsung dapat dialihkan untuk membiayai kontingen Tuli. Persoalan utamanya tetap pada kebutuhan adanya dukungan pembiayaan yang tepat sasaran bagi atlet yang akan mengikuti kompetisi internasional.

APDMSC 2026 sendiri menjadi momentum penting bagi para atlet Tuli Indonesia. Mereka tidak hanya membawa ambisi pribadi untuk meraih prestasi, tetapi juga membawa nama Indonesia di tengah persaingan atlet Tuli dari kawasan Asia Pasifik.

Kini, sebelum pertandingan dimulai di Penang pada Oktober mendatang, perjuangan mereka berlangsung di tempat yang berbeda. Bukan di lintasan, papan catur, arena bowling, maupun lapangan bulu tangkis, melainkan di tengah masyarakat melalui gerakan galang dana atlet Tuli.

Dukungan yang mereka cari pun bukan sekadar soal nominal. Lebih dari itu, keberadaan mereka di ruang publik menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berprestasi seharusnya tidak berhenti hanya karena keterbatasan biaya.

Bagi kontingen, satu dukungan dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju Malaysia. Dan bagi Indonesia, keberangkatan 24 atlet tersebut nantinya bukan hanya tentang siapa yang memenangkan pertandingan, tetapi juga tentang bagaimana para atlet Tuli mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka di panggung Asia Pasifik.

Ikuti terus update seputar dunia sports di sini!

Ketahui lebih lanjut tentang KREEN melalui:

Jangan ragu untuk terhubung dan dapatkan update terbaru seputar event, voting, dan informasi menarik lainnya dari KREEN!