Terkini
Profil Mia Dio, Miss Universe Kuba 2026 yang Inspiratif Jadwal Miss Charm 2026 di Vietnam, Gisela Siap Berlaga Afrizal Syafa dan Gischa Zayana, Dua Gaya Atlet Boccia Indonesia Grand Final Regem & Regina Foreign Language 2026 Rayakan Talenta Bahasa dan Budaya, Voting Favorit Hadir Bersama Kreen Indonesia Grand Final Kang Nong Cilik Banten 2026 Berlangsung Meriah! Dukungan Juara Favorit Bersama Voting Digital Kreen Indonesia Bulan Bahasa 2026 Apresiasi Kreativitas Pelajar dan Mahasiswa, Voting Favorit Digital Bersama Kreen Indonesia Firly Andini Ganta Raih Juara Favorit Putri Danau Poso Sulawesi Tengah 2026, Voting Digital Bersama Kreen Indonesia Firly Andini Ganta Raih Juara Favorit Putri Danau Poso Sulawesi Tengah 2026, Voting Digital Bersama Kreen Indonesia Profil Mia Dio, Miss Universe Kuba 2026 yang Inspiratif Jadwal Miss Charm 2026 di Vietnam, Gisela Siap Berlaga Afrizal Syafa dan Gischa Zayana, Dua Gaya Atlet Boccia Indonesia Grand Final Regem & Regina Foreign Language 2026 Rayakan Talenta Bahasa dan Budaya, Voting Favorit Hadir Bersama Kreen Indonesia Grand Final Kang Nong Cilik Banten 2026 Berlangsung Meriah! Dukungan Juara Favorit Bersama Voting Digital Kreen Indonesia Bulan Bahasa 2026 Apresiasi Kreativitas Pelajar dan Mahasiswa, Voting Favorit Digital Bersama Kreen Indonesia Firly Andini Ganta Raih Juara Favorit Putri Danau Poso Sulawesi Tengah 2026, Voting Digital Bersama Kreen Indonesia Firly Andini Ganta Raih Juara Favorit Putri Danau Poso Sulawesi Tengah 2026, Voting Digital Bersama Kreen Indonesia
Kreen Media
Sport

Afrizal Syafa dan Gischa Zayana, Dua Gaya Atlet Boccia Indonesia

kreen
kreen
Author
05 November 2026 5 menit baca
Afrizal Syafa dan Gischa Zayana, Dua Gaya Atlet Boccia Indonesia


Perjalanan atlet boccia Indonesia di Asian Para Games 2026 memperlihatkan bahwa setiap atlet memiliki cara tersendiri dalam menghadapi tekanan pertandingan. Muhammad Afrizal Syafa tampil ekspresif dengan rambut berwarna biru dan selebrasi penuh semangat, sementara Gischa Zayana dikenal dengan pembawaan kalem serta senyumnya di lapangan.

Perbedaan karakter tersebut menjadi salah satu cerita menarik dari perjuangan tim boccia Indonesia di Nagoya, Jepang. Di balik gaya yang bertolak belakang, keduanya sama-sama menunjukkan pentingnya mengendalikan emosi, menjaga konsentrasi, dan bangkit ketika pertandingan tidak berjalan sesuai harapan.

Asian Para Games 2026 memang telah berakhir, tetapi perjalanan Afrizal dan Gischa meninggalkan pelajaran tentang bagaimana atlet menghadapi tekanan dengan pendekatan yang berbeda.

Afrizal Syafa, Rambut Biru dan Strategi Menekan Lawan

Muhammad Afrizal Syafa mencuri perhatian sejak pertandingan pembuka nomor individu putra BC1 pada 17 Oktober 2026. Atlet asal Solo, Jawa Tengah, tersebut tampil dengan rambut berwarna biru yang membuat penampilannya terlihat berbeda dari atlet lainnya.

Pilihan warna itu bukan tanpa alasan. Afrizal terinspirasi dari dua warna bola yang digunakan dalam olahraga boccia, yakni biru dan merah. Karena warna merah sudah banyak dipilih orang untuk mewarnai rambut, ia memutuskan menggunakan warna biru agar tampil lebih unik.

Namun, perhatian terhadap Afrizal bukan hanya berasal dari penampilannya. Ia juga memiliki cara tersendiri untuk membangun tekanan saat bertanding. Setiap kali berhasil melakukan lemparan sesuai keinginannya, Afrizal kerap berteriak untuk menciptakan tekanan psikologis kepada lawan.

Strategi tersebut menjadi bagian dari caranya menjaga suasana pertandingan tetap kompetitif. Meski demikian, Afrizal tetap perlu mengendalikan permainannya sendiri agar tidak kehilangan fokus.

Pada laga pembuka melawan atlet Kazakhstan, Yerkhat Almat, Afrizal sempat tertinggal 0-3. Ia kemudian bangkit dan berhasil membalikkan keadaan hingga menang dengan skor 4-3.

Afrizal mengakui bahwa dirinya terkadang membutuhkan waktu untuk menemukan ritme permainan pada awal pertandingan. Setelah tertinggal, ia mencoba bermain lebih tenang dan menikmati setiap proses di lapangan.

Pengalaman tersebut menjadi evaluasi penting baginya. Ia bertekad memperbaiki penampilan agar tidak kembali menghadapi ketertinggalan besar pada awal pertandingan berikutnya.

Meski Afrizal akhirnya gagal melaju ke final nomor individu putra BC1 setelah kalah dari wakil Thailand, Witsanu Huadpradit, dengan skor 2-5 di semifinal, perjalanannya tidak berhenti di sana. Ia kembali berkontribusi dalam keberhasilan Indonesia meraih emas nomor beregu campuran BC1/BC2 bersama Gischa Zayana dan Felix Ardi Yudha.

Gischa Zayana, Ketenangan di Tengah Tekanan

Berbeda dengan Afrizal yang ekspresif, Gischa Zayana memperlihatkan karakter yang lebih kalem ketika bertanding. Atlet nomor individu putri BC2 itu kerap tersenyum, baik saat memasuki lapangan maupun ketika menghadapi lawan.

Namun, sikap tenang tersebut bukan berarti Gischa tidak merasakan gugup. Pada pertandingan pembuka fase grup Asian Para Games 2026, ia mengaku sempat mengalami demam panggung ketika melihat suasana stadion yang ramai.

Gischa kemudian berusaha menguatkan mental dan memusatkan perhatian pada permainan. Upaya itu membantunya bangkit setelah sempat tertinggal dua angka dari wakil Kamboja, Sas Sorn. Ia akhirnya menang dengan skor 7-2.

Gischa kembali memperlihatkan performa impresif ketika menghadapi atlet Kirgistan, Zhazira Satybaldyeva, dengan kemenangan telak 20-0 pada pertandingan fase grup berikutnya.

Perjalanannya berlanjut hingga partai final nomor individu putri BC2. Di laga penentuan tersebut, Gischa menghadapi Hiu Lam Yeung dari Hong Kong, lawan yang pernah menyulitkannya dalam pertandingan sebelumnya.

Gischa berhasil menang tipis 6-5 dan mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Kemenangan itu menjadi salah satu pencapaian pentingnya di Asian Para Games 2026.

Beda Karakter, Tujuan yang Sama

Kisah Afrizal Syafa dan Gischa Zayana memperlihatkan bahwa tidak ada satu cara tunggal untuk menghadapi tekanan dalam olahraga. Afrizal memilih tampil ekspresif dan membangun atmosfer pertandingan, sedangkan Gischa berusaha mengandalkan ketenangan untuk menjaga konsentrasi.

Keduanya tetap harus menghadapi tantangan yang sama: mengendalikan emosi, membaca situasi, dan mengambil keputusan tepat ketika setiap lemparan dapat memengaruhi hasil pertandingan.

Bagi atlet boccia, kemampuan teknis memang penting. Namun, kesiapan mental juga berperan besar, terutama ketika pertandingan berlangsung ketat atau atlet harus mengejar ketertinggalan.

Perjalanan keduanya di Nagoya menunjukkan bahwa rasa gugup maupun awal pertandingan yang sulit bukanlah akhir dari perjuangan. Respons atlet terhadap situasi tersebut dapat menjadi penentu arah pertandingan.

Boccia Indonesia Pulang dengan Empat Medali Emas

Asian Para Games 2026 menjadi ajang bersejarah bagi tim boccia Indonesia. Kontingen Merah Putih berhasil mengumpulkan empat medali emas, melampaui target awal satu emas yang dibebankan kepada cabang olahraga tersebut.

Tiga emas nomor individu diraih oleh Handayani di nomor BC1 putri, Gischa Zayana di nomor BC2 putri, serta Felix Ardi Yudha di nomor BC2 putra. Sementara itu, emas keempat datang dari nomor beregu campuran BC1/BC2 yang diperkuat Afrizal Syafa, Gischa Zayana, dan Felix Ardi Yudha.

Pada final nomor beregu campuran, Indonesia mengalahkan Thailand dengan skor 11-3. Hasil tersebut menegaskan kontribusi besar para atlet boccia dalam pencapaian kontingen Indonesia di Nagoya.

Lebih dari sekadar koleksi medali, keberhasilan tersebut menjadi modal berharga untuk menghadapi kompetisi berikutnya, termasuk persiapan menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.

Afrizal dan Gischa mungkin memiliki gaya yang berbeda ketika berada di lapangan. Namun, keduanya menjadi bagian dari tim yang sama-sama berjuang membawa nama Indonesia. Dari rambut biru hingga senyum tenang, cerita mereka mengingatkan bahwa di balik setiap penampilan atlet terdapat strategi, proses belajar, dan usaha untuk terus berkembang.


kreen
kreen
Author
399 artikel telah dipublikasikan