Barce Layaba dan Leli Marlina Raih Emas, Persembahkan untuk David Jacobs
Pasangan para tenis meja Indonesia, Barce Layaba dan Leli Marlina, menciptakan kejutan di Asian Para Games 2026. Meski tidak masuk daftar unggulan, keduanya berhasil meraih medali emas nomor ganda campuran kelas XD10 di Nagoya, Jepang. Prestasi ini terasa semakin istimewa karena dipersembahkan untuk mendiang legenda tenis meja Indonesia, David Jacobs.
Perjalanan Barce Layaba dan Leli Marlina menuju podium tertinggi tidak berlangsung mudah. Keduanya harus menghadapi lawan-lawan tangguh dari Thailand, China, hingga Korea Selatan. Namun, mental pantang menyerah dan kepercayaan diri yang tumbuh sepanjang kompetisi menjadi bekal penting untuk melewati setiap pertandingan.
Kemenangan tersebut sekaligus melampaui target awal tim para tenis meja Indonesia di Asian Para Games 2026. Jika sebelumnya tim hanya membidik empat medali perunggu, Barce dan Leli justru berhasil membawa pulang emas yang telah lama dinantikan.
Kemenangan atas Thailand Jadi Titik Balik
Salah satu tantangan terbesar Barce Layaba dan Leli Marlina muncul ketika mereka kembali bertemu wakil Thailand di babak perempat final. Pertemuan itu menjadi ujian mental karena keduanya pernah kalah dari pasangan Thailand pada ASEAN Para Games 2025.
Pengalaman tersebut sempat membebani Barce dan Leli. Mereka mengakui sempat merasa gugup ketika harus kembali menghadapi lawan yang pernah mengalahkan mereka.
Namun, tekanan itu berhasil diatasi. Sebelum memasuki perempat final, pasangan Indonesia tersebut sudah mengalahkan Panwas Sringam dan Norakhan Chanpaka dari Thailand dengan skor 3-0 pada fase grup.
Di babak delapan besar, Barce dan Leli kembali menghadapi wakil Thailand, yakni Wassana Sringam dan Wanchai Chaiwut. Kali ini, pasangan Merah Putih menang dengan skor 3-1.
Kemenangan itu menjadi titik balik penting. Setelah berhasil melewati lawan yang sebelumnya menjadi beban pikiran, Barce dan Leli tampil lebih percaya diri menghadapi babak berikutnya.
Bagi keduanya, keberhasilan mengatasi Thailand bukan sekadar kemenangan di atas meja pertandingan. Hasil tersebut juga membuktikan bahwa kekalahan masa lalu tidak harus menentukan hasil pada pertemuan berikutnya.
Tak Gentar Menghadapi Wakil China dan Korea Selatan
Modal kepercayaan diri dari kemenangan atas Thailand kemudian dibawa Barce dan Leli ke semifinal. Kali ini, mereka harus menghadapi pasangan China, Bian Zhang dan Zhengyang Peng.
China dikenal memiliki persaingan kuat di cabang para tenis meja. Meski demikian, Barce dan Leli memilih untuk tidak terlalu memikirkan status lawan. Mereka berusaha bermain lebih lepas dan memaksimalkan persiapan teknis yang telah dilakukan.
Strategi tersebut mengantarkan pasangan Indonesia ke partai final. Di babak penentuan, mereka berhadapan dengan pasangan Korea Selatan, Kim Young-gun dan Moon Sung-hye.
Barce dan Leli sempat kehilangan gim pertama dengan skor 6-11. Namun, keduanya mampu membalikkan keadaan dengan merebut tiga gim berikutnya, masing-masing dengan skor 11-7, 11-8, dan 11-3.
Kemenangan 3-1 itu memastikan medali emas Asian Para Games 2026 untuk Indonesia.
Leli mengungkapkan bahwa ia tidak terlalu gugup menghadapi wakil Korea Selatan. Pengalaman bertemu atlet Korea dalam sejumlah kejuaraan sebelumnya membuatnya memiliki keyakinan untuk kembali bersaing.
Perjalanan menuju emas ini memperlihatkan pentingnya kesiapan teknis yang diimbangi kekuatan mental. Bagi Barce dan Leli, kepercayaan diri tidak hadir begitu saja, tetapi tumbuh setelah mereka berhasil melewati pertandingan-pertandingan sulit.
Emas yang Dipersembahkan untuk David Jacobs
Di balik keberhasilan meraih emas, terdapat makna emosional bagi tim para tenis meja Indonesia. Barce Layaba dan Leli Marlina secara khusus mempersembahkan kemenangan tersebut untuk David Jacobs, legenda tenis meja Indonesia yang meninggal dunia pada 2023.
David dikenal sebagai sosok penting dalam perjalanan tenis meja Indonesia, termasuk di nomor para tenis meja. Kepergiannya meninggalkan kehilangan bagi dunia olahraga nasional.
Karena itu, keberhasilan meraih emas di Asian Para Games 2026 memiliki arti tersendiri bagi tim. Leli menyampaikan bahwa medali tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada David, sekaligus menandai kembalinya Indonesia ke podium tertinggi cabang para tenis meja setelah edisi 2018.
Barce juga mendedikasikan pencapaian itu untuk Indonesia, keluarga, pelatih, dan semua pihak yang terus memberikan dukungan selama mereka berlatih dan bertanding.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan atlet. Di balik medali yang diraih, terdapat proses latihan, arahan pelatih, serta dukungan keluarga yang membantu mereka bertahan menghadapi tekanan kompetisi.
Pelatih para tenis meja Indonesia, Bayu Widhie Hapsara Purba, turut menilai emas tersebut sangat berarti bagi tim. Capaian itu menjadi momentum penting setelah Indonesia sebelumnya menargetkan empat perunggu di Asian Para Games 2026.
Para Tenis Meja Indonesia Melampaui Target
Keberhasilan Barce Layaba dan Leli Marlina menjadi bagian dari hasil positif tim para tenis meja Indonesia di Nagoya. Secara keseluruhan, Indonesia menutup kompetisi dengan koleksi satu medali emas dan enam medali perunggu.
Selain emas ganda campuran kelas XD10, medali perunggu diraih oleh sejumlah atlet dan pasangan Indonesia. Barce menyumbangkan perunggu dari nomor tunggal putra kelas TT4-5, sedangkan Komet Akbar meraih perunggu tunggal putra kelas TT10 dan Hamida memperoleh perunggu tunggal putri kelas TT8.
Osrita Muslim juga tampil mengejutkan dengan menyumbangkan dua perunggu. Atlet berusia 59 tahun itu meraih medali dari nomor ganda putri kelas TT10 bersama Leli Marlina serta ganda campuran kelas TT7 bersama Yayang Gunaya. Satu perunggu lainnya diraih pasangan Adyos Astan dan Yayang Gunaya dari nomor ganda putra kelas TT8.
Raihan satu emas dan enam perunggu tersebut melampaui target awal tim yang hanya membidik empat medali perunggu. Hasil ini sekaligus menunjukkan bahwa para atlet Indonesia mampu bersaing dengan lawan-lawan kuat di tingkat Asia.
Bagi Barce dan Leli, medali emas Asian Para Games 2026 bukan hanya tentang kemenangan di lapangan. Perjalanan mereka menjadi bukti bahwa kepercayaan diri dapat tumbuh setelah menghadapi tekanan, sementara dukungan orang-orang di sekitar atlet turut menguatkan langkah menuju prestasi.
Emas yang mereka persembahkan untuk David Jacobs pun menjadi simbol penghormatan terhadap sosok yang telah memberikan kontribusi besar bagi tenis meja Indonesia.
Baca Juga
Gischa Zayana Raih Emas Asian Para Games 2026, Akhiri Catatan Sulit Lawan Hong Kong
Felix Ardi Yudha Rebut Emas Kedelapan Indonesia di Asian Para Games 2026
Comeback Dramatis Handayani, Raih Emas Ketujuh Indonesia di Asian Para Games 2026