Sumber foto: @npcidkijakarta
Nama Fendy Kurnia Pamungkas kembali mencuri perhatian setelah menjadi bagian dari perjuangan tim boccia Indonesia di ASEAN Para Games 2025 di Thailand. Atlet asal DKI Jakarta tersebut berhasil menyumbangkan medali untuk Merah Putih melalui nomor mixed pair BC3 bersama Suci Kirana Dewi.
Bagi Fendy, pencapaian tersebut bukan sekadar tambahan medali. Hasil itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai salah satu atlet boccia Indonesia yang telah tampil di berbagai ajang multievent internasional.
Pada ASEAN Para Games 2025, Fendy menjadi salah satu atlet senior dalam skuad boccia Indonesia. Ia berusia 32 tahun ketika tampil di Thailand dan turun pada nomor individual BC3 putra serta mixed pair BC3.
Konsistensinya inilah yang membuat nama Fendy layak mendapat sorotan. Di tengah perkembangan cabang olahraga boccia Indonesia, ia menjadi salah satu atlet yang terus dipercaya membawa nama Indonesia ke panggung internasional.
Pada ASEAN Para Games 2025, yang berlangsung di Thailand pada Januari 2026, Fendy tampil bersama Suci Kirana Dewi dalam nomor mixed pair BC3.
Pasangan Indonesia tersebut berhasil mengamankan medali perak. Berdasarkan daftar peraih medali, emas nomor mixed pair BC3 diraih pasangan Singapura Aloysius Kai Hong Gan dan Nurulasyiqah Mohammad Taha, sedangkan Fendy Kurnia Pamungkas dan Dewi Suci Kirana berada di posisi kedua.
Hasil tersebut menambah catatan prestasi Fendy di level regional. Ia tidak hanya berkompetisi pada nomor individu, tetapi juga memiliki pengalaman dalam nomor berpasangan yang membutuhkan koordinasi, strategi, dan komunikasi dengan partner.
Bagi olahraga seperti boccia, kemampuan tersebut menjadi sangat penting. Setiap lemparan harus diperhitungkan dengan matang karena posisi bola dapat menentukan jalannya pertandingan.
Fendy bukan pendatang baru di skuad nasional.
Menjelang ASEAN Para Games 2025, ia termasuk salah satu atlet senior dalam tim boccia Indonesia. Dalam komposisi tim tersebut, Fendy berusia 32 tahun, sama dengan Felix Ardi Yudha. Sementara atlet paling senior adalah Faris Sugiarta yang berusia 33 tahun.
Komposisi tersebut menunjukkan adanya perpaduan antara atlet berpengalaman dan generasi yang lebih muda.
Salah satunya adalah Intan Cahaya Putri yang saat itu baru berusia 15 tahun. Kehadiran atlet muda dan senior dalam satu tim menjadi bagian penting dalam proses regenerasi boccia Indonesia.
Pengalaman Fendy pun dapat menjadi modal penting bagi tim karena ia telah melewati berbagai pertandingan dan kompetisi internasional.
Perjalanan Fendy di dunia boccia sudah berlangsung cukup lama.
Namanya tercatat dalam berbagai kompetisi internasional yang diikuti kontingen Indonesia. Data National Paralympic Committee of Indonesia juga mencantumkan Fendy sebagai atlet cabang boccia.
Salah satu catatan penting datang dari ASEAN Para Games 2022 di Solo. Ketika itu, Fendy tampil pada nomor BC4 dan juga turun di nomor mixed pair bersama Wening Prabawati.
Pada nomor mixed pair BC4, Fendy dan Wening berhasil meraih medali perak. Catatan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman Fendy dalam nomor berpasangan bukan sesuatu yang baru.
Bahkan, data resmi hasil pertandingan ASEAN Para Games 2022 mencatat Fendy Kurnia Pamungkas dan Wening Prabawati sebagai peraih perak mixed pair BC4.
Boccia memang belum sepopuler beberapa cabang olahraga para lainnya di Indonesia. Namun, prestasi para atletnya menunjukkan bahwa olahraga tersebut memiliki potensi besar untuk berkembang.
Fendy menjadi salah satu nama yang ikut berada dalam perjalanan tersebut.
Pada ASEAN Para Games 2022, misalnya, tim boccia Indonesia berhasil mengumpulkan satu emas, empat perak, dan enam perunggu. Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa performa atlet boccia Indonesia mulai semakin kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
Dalam beberapa tahun berikutnya, Fendy masih dipercaya masuk dalam skuad nasional. Ia kembali memperkuat Indonesia di ASEAN Para Games 2025 dan berkompetisi pada nomor BC3.
Kepercayaan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman dan konsistensi masih menjadi salah satu kekuatan utama yang dimiliki Fendy.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, nama boccia mungkin masih terdengar asing.
Boccia merupakan cabang olahraga para yang dimainkan dengan bola berwarna merah dan biru serta satu bola target berwarna putih yang disebut jack. Atlet berusaha menempatkan bola mereka sedekat mungkin dengan jack.
Pertandingan membutuhkan kombinasi konsentrasi, strategi, ketepatan, dan kemampuan membaca posisi bola.
Dalam nomor tertentu, pertandingan dapat dimainkan secara individu, berpasangan, maupun beregu. Klasifikasi BC3 yang diikuti Fendy pada ASEAN Para Games 2025 merupakan salah satu kelas dalam boccia.
Indonesia sendiri mengirim 11 atlet boccia pada ASEAN Para Games 2025 untuk bersaing di nomor individual BC1 hingga BC4, mixed pair BC3 dan BC4, serta nomor beregu BC1/BC2.
Keberadaan Fendy juga menjadi menarik jika dilihat dari sisi regenerasi.
Ketika atlet senior seperti Fendy masih aktif bersaing di level internasional, Indonesia pada saat yang sama mulai memberikan ruang kepada atlet-atlet yang lebih muda.
Kombinasi tersebut penting karena olahraga prestasi tidak hanya membutuhkan atlet berbakat, tetapi juga pengalaman bertanding yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks tersebut, perjalanan Fendy dapat menjadi salah satu contoh bagaimana seorang atlet dapat terus berkembang sekaligus mempertahankan tempatnya di tim nasional.
Prestasi di ASEAN Para Games 2025 juga memperlihatkan bahwa perjalanan Fendy belum berhenti.
Bagi Fendy Kurnia Pamungkas, medali perak dari Thailand menjadi bagian lain dari perjalanan panjang sebagai atlet boccia Indonesia.
Dari pengalaman di ASEAN Para Games 2022 hingga kembali tampil pada edisi 2025, Fendy menunjukkan bahwa konsistensi menjadi salah satu modal penting dalam olahraga prestasi.
Kehadirannya bersama atlet-atlet muda juga memberikan gambaran mengenai masa depan boccia Indonesia. Regenerasi dapat berjalan beriringan dengan pengalaman para atlet senior yang masih aktif berkompetisi.
Dengan semakin banyaknya ajang internasional dan dukungan terhadap cabang olahraga para, Fendy Kurnia Pamungkas menjadi salah satu nama yang patut terus diperhatikan.
Medali perak di Thailand bukan hanya tentang hasil sebuah pertandingan, tetapi juga menjadi bukti bahwa perjalanan panjang seorang atlet masih dapat menghasilkan prestasi di panggung internasional.
Bagi Fendy, perjuangan belum selesai. Perjalanan di lapangan boccia masih berlanjut, bersama target dan tantangan baru untuk kembali mengharumkan nama Indonesia.
Ikuti terus update seputar dunia sports npci di sini!
Jangan ragu untuk terhubung dan dapatkan update terbaru seputar event, voting, dan informasi menarik lainnya dari KREEN!