Sumber foto: NPCI
Kehilangan penglihatan secara total pada usia 28 tahun pernah membuat Imam Bahroni merasa hidupnya seakan berhenti. Ia yang saat itu sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak memilih lebih banyak menghabiskan waktu di kamar karena merasa malu bertemu orang lain.
Namun, keterpurukan tersebut tidak berlangsung selamanya. Perlahan, Imam menemukan alasan untuk kembali bangkit. Keinginannya untuk tetap memenuhi kebutuhan keluarga, terutama sang anak, menjadi dorongan terbesar untuk melawan rasa takut dan keterpurukan yang sempat membelenggunya.
Kini, pria asal Kediri tersebut justru aktif sebagai atlet blind judo. Ia bergabung dengan National Paralympic Committee (NPC) pada 2023 dan mulai menekuni blind judo pada awal 2024. Perjalanan itu kemudian membawanya mengikuti berbagai proses seleksi hingga tampil dalam Peparnas Solo 2025.
Kisah Imam menjadi gambaran bahwa kehilangan fungsi penglihatan bukan berarti kehilangan kesempatan untuk berkarya. Justru melalui olahraga, ia menemukan ruang baru untuk membangun kembali kepercayaan diri sekaligus membuktikan kemampuannya.
Tahun 2018 menjadi titik balik yang sangat berat dalam kehidupan Imam Bahroni. Saat berusia 28 tahun, penglihatannya hilang total akibat kelemahan saraf pada mata.
Kondisi tersebut datang ketika Imam sudah memiliki keluarga dan seorang anak. Perubahan besar dalam hidup membuatnya kesulitan menerima keadaan baru.
Ia mengaku sempat merasa malu ketika harus bertemu orang lain. Rasa tidak percaya diri membuat Imam lebih banyak berada di dalam kamar dan menjauh dari lingkungan sekitar.
Bagi seseorang yang sebelumnya menjalani kehidupan secara normal, kehilangan penglihatan tentu membutuhkan proses adaptasi yang panjang. Imam pun sempat berada pada titik ketika dirinya merasa ingin menyerah.
Namun, keberadaan keluarga perlahan membuatnya berpikir kembali. Ia menyadari bahwa dirinya masih memiliki tanggung jawab sebagai seorang ayah.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi tentang apa yang telah hilang, melainkan apa yang masih bisa dilakukan.
Titik balik terbesar dalam perjalanan Imam datang ketika ia menyadari bahwa dirinya tidak boleh terus berada dalam keterpurukan.
Ia harus memilih antara tetap mengurung diri atau berusaha bangkit demi keluarganya.
Bagi Imam, sang anak menjadi salah satu alasan terkuat untuk kembali menjalani kehidupan. Ia ingin tetap mampu mencukupi kebutuhan keluarga dan menunjukkan bahwa kondisi yang dialaminya tidak harus menjadi akhir dari semuanya.
Dari sinilah perjuangan Imam perlahan dimulai.
Ia mencoba membuka diri terhadap berbagai kemungkinan baru, termasuk bergabung dengan komunitas dan lingkungan olahraga disabilitas.
Keputusan tersebut akhirnya mempertemukannya dengan dunia blind judo, olahraga yang kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Menurut Imam, tantangan terbesar sebenarnya bukan menghadapi orang lain ataupun kondisi lingkungan, melainkan melawan dirinya sendiri. Rasa takut, malu, dan tidak percaya diri menjadi hambatan yang harus ia taklukkan terlebih dahulu.
Imam bergabung dengan NPC pada 2023. Setahun kemudian, tepatnya pada awal 2024, ia mulai menekuni blind judo.
Bagi Imam, pilihan tersebut tentu bukan keputusan yang mudah. Olahraga judo memiliki kontak fisik dan membutuhkan keberanian serta kemampuan membaca situasi melalui sentuhan dan pendengaran.
Keluarganya pun sempat merasa khawatir. Orang tua Imam pada awalnya belum sepenuhnya yakin dengan keputusan sang anak untuk menekuni olahraga tersebut.
Kekhawatiran itu cukup beralasan karena blind judo memiliki tantangan tersendiri bagi atlet tunanetra.
Namun, Imam tetap berusaha menjalani latihan dan menunjukkan keseriusannya.
Ia kemudian mengikuti seleksi Jawa Timur dan berkesempatan tampil di Peparnas Solo 2025. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan Imam sebagai atlet blind judo.
Bukan hanya karena kesempatan bertanding, tetapi juga karena penampilannya di Peparnas membuat keluarga melihat kemampuan penyandang disabilitas dari sudut pandang yang berbeda.
Keikutsertaan Imam dalam Peparnas Solo 2025 menjadi semacam pembuktian bagi keluarganya.
Orang tua yang sebelumnya masih khawatir akhirnya melihat sendiri bahwa seorang tunanetra tetap memiliki kesempatan untuk berkarya, berkarier, mengikuti kompetisi, dan berprestasi melalui olahraga.
Perlahan, kekhawatiran tersebut berubah menjadi dukungan.
Keluarga yang sebelumnya mempertanyakan pilihan Imam untuk menekuni judo akhirnya memberikan kebebasan kepadanya untuk terus berlatih.
Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang atlet, terlebih bagi atlet disabilitas yang harus menghadapi tantangan fisik sekaligus sosial.
Bagi Imam, penerimaan keluarga tersebut memberikan energi tambahan untuk melanjutkan perjuangannya.
Kini ia masih aktif sebagai atlet blind judo Kota Kediri dan terus menjalani latihan. Target berikutnya sudah ia tentukan, yakni berusaha tampil di Peparnas 2028 dengan harapan dapat meraih prestasi lebih tinggi.
Menariknya, perjalanan Imam tidak hanya berfokus pada olahraga.
Di tengah aktivitasnya sebagai atlet, ia juga sedang menimba ilmu pijat atau massage di sebuah sekolah pijat di Malang.
Keahlian tersebut dapat menjadi bekal bagi Imam untuk memiliki kemampuan lain di luar arena olahraga.
Pilihan untuk terus belajar menunjukkan bahwa kebangkitan Imam tidak hanya diwujudkan melalui latihan judo. Ia juga berusaha membangun kemandirian dengan mengembangkan keterampilan yang dapat berguna untuk masa depan.
Dengan begitu, olahraga bukan satu-satunya jalan yang ia tempuh. Imam mencoba membuka berbagai peluang agar tetap dapat produktif dan memiliki kontribusi bagi keluarga maupun masyarakat.
Pengalaman melewati masa sulit membuat Imam memiliki keinginan untuk membantu penyandang disabilitas lainnya.
Ia ingin kisahnya menjadi penyemangat, terutama bagi para tunanetra yang masih merasa malu, minder, atau belum mendapatkan kepercayaan dari keluarga.
Menurut Imam, kesempatan menjadi salah satu hal penting yang dibutuhkan penyandang disabilitas. Ketika keluarga dan masyarakat memberikan ruang, mereka dapat menunjukkan kemampuan yang selama ini mungkin belum terlihat.
Pesan tersebut menjadi semakin kuat karena Imam sendiri pernah berada di posisi seseorang yang kehilangan kepercayaan diri.
Ia tahu bagaimana rasanya merasa malu untuk bertemu orang lain dan memilih mengurung diri. Karena itu, pengalaman tersebut ingin ia ubah menjadi energi positif untuk membantu orang lain keluar dari kondisi serupa.
Target Imam ternyata tidak berhenti pada prestasi pribadi.
Dalam jangka panjang, ia ingin ikut berkontribusi menemukan dan membina bibit-bibit atlet disabilitas baru. Ia terutama ingin menjangkau anak-anak muda yang mungkin memiliki potensi tetapi masih malu atau belum mendapatkan kepercayaan dari keluarganya.
Harapan tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam diri Imam.
Jika sebelumnya ia berjuang untuk keluar dari keterpurukan demi keluarganya, kini ia ingin perjuangannya memberikan manfaat yang lebih luas.
Pengalaman yang ia miliki dapat menjadi modal untuk mendampingi generasi berikutnya agar lebih percaya diri dalam mengembangkan kemampuan.
Bagi Imam, olahraga bukan hanya soal kemenangan dan medali. Olahraga menjadi jalan untuk membangun keberanian, kemandirian, sekaligus membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan bahwa mereka mampu berkontribusi.
Perjalanan Imam Bahroni dari seseorang yang sempat ingin menyerah hingga menjadi atlet blind judo memperlihatkan bahwa titik terendah dalam hidup bukan selalu menjadi akhir perjalanan.
Kehilangan penglihatan pada 2018 memang mengubah kehidupannya secara drastis. Namun, beberapa tahun kemudian, Imam justru menemukan dunia baru melalui olahraga.
Dari kamar tempat ia dulu mengurung diri, kini ia beranjak menuju arena latihan. Dari rasa malu bertemu orang lain, ia mulai tampil sebagai atlet dan mengikuti kompetisi. Dari keraguan keluarga, ia akhirnya memperoleh dukungan penuh untuk terus berjuang.
Perjalanan tersebut tentu masih panjang. Imam masih memiliki target untuk Peparnas 2028 dan masih ingin meningkatkan kemampuan di blind judo.
Namun, satu hal sudah berhasil ia buktikan: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Bagi Imam, kebangkitan bukan berarti melupakan masa sulit yang pernah dialami. Justru pengalaman itulah yang menjadi kekuatan untuk melangkah lebih jauh.
Kini, ia tidak hanya ingin menjadi atlet. Imam juga ingin menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, berolahraga, berprestasi, dan memberikan kontribusi bagi orang lain.
Ikuti terus update seputar dunia sports NPC di sini!
Jangan ragu untuk terhubung dan dapatkan update terbaru seputar event, voting, dan informasi menarik lainnya dari KREEN!