Terkini
Kreen Media
Sport

Noviera Ross, Pemanah Bogor Raih Perak Asian Para Games 2026

kreen
kreen
Author
31 October 2026 6 menit baca
Noviera Ross, Pemanah Bogor Raih Perak Asian Para Games 2026

Noviera Ross, dari Masa Sulit hingga Raih Perak Asian Para Games 2026

Noviera Ross Asian Para Games 2026 menjadi kisah tentang perjalanan panjang seorang atlet yang pernah merasa masa depannya tertutup, tetapi akhirnya mampu berdiri di podium kompetisi olahraga terbesar di Asia bagi atlet disabilitas. Pemanah asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu berhasil membawa pulang medali perak dari nomor recurve beregu campuran bersama Kholidin.

Medali tersebut diraih pada Asian Para Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, setelah pasangan Indonesia menghadapi wakil China, Wang Xueqian dan Zhao Lixue, di partai final. Kholidin dan Noviera harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 1-5 pada Jumat, 23 Oktober 2026. Meski belum meraih emas, pencapaian itu menjadi hasil penting dalam debut Noviera di ajang tersebut. Namun, perjalanan Noviera menuju podium tidak berlangsung singkat. Sebelum mengenal panahan, ia pernah menjalani masa pemulihan selama tiga tahun akibat kecelakaan yang membuat kaki kanannya mengalami cedera serius. Ia kemudian menjalani amputasi dan harus menghadapi pandangan pesimistis dari sebagian orang mengenai masa depannya.

Kini, olahraga bukan hanya membawanya ke kompetisi internasional. Panahan juga membuka jalan bagi Noviera untuk membuktikan kemampuannya, membantu sang ibu, dan mengejar kesempatan tampil di Paralimpiade Los Angeles 2028.

1. Kecelakaan Mengubah Arah Hidup Noviera

Perjalanan Noviera menghadapi tantangan besar ketika ia masih duduk di kelas tiga SMP. Saat hendak berangkat ke sekolah untuk mengikuti hari pertama Ujian Nasional, sepeda motor yang ditumpanginya terserempet kendaraan lain. Ia terjatuh dan kaki kanannya tertimpa motor hingga tulang betisnya patah di dua bagian.

Awalnya, cedera tersebut terlihat tidak terlalu parah. Namun, setelah menjalani pengobatan tradisional, kondisi kakinya justru memburuk akibat infeksi. Noviera kemudian menjalani perawatan medis dengan alat penyangga kaki selama sekitar tiga tahun.

Masa itu menjadi periode yang melelahkan bagi dirinya dan keluarga. Ia harus menjalani pergantian perban secara berkala, sementara aktivitasnya terhambat ketika teman-teman sebaya mulai menyelesaikan sekolah dan melanjutkan kehidupan masing-masing.

Dokter akhirnya menyarankan amputasi karena jaringan di kakinya tidak lagi dapat diselamatkan. Noviera menerima keputusan tersebut setelah bertahun-tahun menahan rasa sakit dan berharap dapat kembali bergerak dengan lebih leluasa.

Keputusan itu tentu bukan perkara sederhana. Namun, bagi Noviera, amputasi juga menjadi jalan untuk keluar dari masa perawatan panjang yang telah membatasi kehidupannya.

2. Dari Keraguan Menemukan Jalan di Dunia Olahraga

Setelah menjalani amputasi, Noviera masih harus menghadapi tantangan lain, yakni pandangan orang-orang yang meragukan masa depannya. Ia pernah mendengar anggapan bahwa pilihan hidupnya akan terbatas karena kondisi fisiknya.

Titik balik mulai muncul pada 2018. Seorang pelatih mengajaknya bergabung dengan NPC Kabupaten Bogor untuk mengenal olahraga disabilitas. Pada awalnya, Noviera diarahkan untuk mencoba nomor lempar cakram.

Pengalaman itu mempertemukannya dengan lingkungan baru. Ia melihat banyak atlet disabilitas lain yang tetap berlatih dan berkompetisi, sehingga mulai memahami bahwa kondisi fisik bukan satu-satunya penentu kesempatan seseorang untuk berkembang.

Perjalanan Noviera kemudian beralih ke panahan. Saat itu, panahan Kabupaten Bogor belum memiliki atlet putri, sehingga ia menerima kesempatan untuk mencoba cabang olahraga tersebut meskipun belum pernah menggunakan busur sebelumnya.

Keputusan itu menjadi awal perjalanan yang mengubah hidupnya. Pada tahun yang sama, Noviera berhasil meraih medali emas di Pekan Paralimpik Daerah (Peparda). Dari sana, ia mulai membangun pengalaman dan prestasi secara bertahap.

3. Prestasi Berawal dari Kabupaten Bogor hingga Panggung Asia

Setelah meraih hasil positif di tingkat daerah, Noviera melanjutkan perjalanan kompetitifnya ke ajang nasional. Ia berhasil meraih emas nomor beregu campuran pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) Papua 2021, kemudian tampil di Peparnas Solo 2024.

Performa tersebut membawanya semakin dekat dengan persaingan internasional hingga akhirnya mendapat panggilan untuk bergabung dengan pemusatan latihan nasional.

Pencapaian di Asian Para Games 2026 menjadi tonggak berikutnya. Berpasangan dengan Kholidin, Noviera berhasil melewati perempat final dan semifinal nomor recurve beregu campuran sebelum melaju ke partai puncak.

Di perempat final, pasangan Indonesia menundukkan wakil Mongolia dengan skor 5-4. Mereka kemudian mengalahkan pasangan Iran 5-1 pada semifinal untuk memastikan tempat di final.

Pada pertandingan penentuan, pasangan China tampil lebih unggul dan menang 5-1. Hasil tersebut memastikan Noviera dan Kholidin membawa pulang medali perak untuk Indonesia. 

Bagi Noviera, keberhasilan ini bukan hanya tentang tambahan medali. Penampilan di Asian Para Games memberinya kesempatan mengukur kemampuan menghadapi pemanah terbaik Asia dan mempelajari standar persaingan yang lebih tinggi.

4. Dukungan Keluarga Menjadi Bagian dari Perjuangan

Di balik perjalanan Noviera sebagai atlet, terdapat dukungan keluarga yang memiliki arti besar. Sang ayah awalnya merasa khawatir ketika anak bungsunya harus berlatih jauh dari rumah. Namun, seiring munculnya prestasi, ia berubah menjadi salah satu pendukung terbesar Noviera.

Sayangnya, sang ayah meninggal dunia sekitar sebulan sebelum Peparnas Papua 2021. Momen itu meninggalkan kenangan mendalam bagi Noviera, terlebih ketika ia berhasil meraih emas di ajang tersebut.

Ia mengenang medali itu sebagai bentuk pemenuhan janji kepada ayahnya yang selama ini mendukung perjalanan olahraga yang ia pilih.

Kini, Noviera juga berupaya membantu memenuhi kebutuhan sang ibu melalui perjalanan kariernya sebagai atlet. Ia berharap pencapaian yang diraih dapat menjadi sumber kebanggaan bagi keluarga yang telah mendampinginya melewati masa sulit.

Dukungan juga datang dari suaminya, yang merupakan pelatihnya ketika berlatih di Kabupaten Bogor. Menurut Noviera, kehadiran sang suami membantunya menjalani keputusan penting dalam karier, termasuk ketika menerima kesempatan masuk pelatnas.

Peran keluarga tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya, mulai dari proses pemulihan hingga kesempatan membawa nama Indonesia di kompetisi internasional.

5. Menatap Paralimpiade Los Angeles 2028

Setelah Asian Para Games 2026, Noviera masih memiliki target besar yang ingin diperjuangkan. Ia akan kembali mengikuti program pelatnas untuk mempersiapkan diri menghadapi proses kualifikasi Paralimpiade Los Angeles 2028.

Persaingan menuju Paralimpiade tentu tidak mudah. Noviera harus terus meningkatkan kemampuan teknik, menjaga konsistensi, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pemanah dari berbagai negara.

Pengalaman bertanding di Aichi-Nagoya dapat menjadi bekal penting untuk perjalanan tersebut. Ia telah merasakan langsung persaingan tingkat Asia dan memperoleh pelajaran dari pertandingan melawan atlet yang sebelumnya belum pernah dihadapinya.

Noviera juga harus menerima bahwa tidak setiap pertandingan berakhir dengan medali. Pada nomor individu recurve putri, ia gagal meraih perunggu setelah kalah 0-6 dari pemanah China pada 24 Oktober 2026. Meski demikian, ia tetap memandang pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.Kisah Noviera Ross memperlihatkan bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu dimulai dari kondisi yang ideal. Ada masa ketika ia harus berjuang menghadapi rasa sakit, keterbatasan, dan keraguan terhadap masa depannya sendiri.

Kini, medali perak Asian Para Games 2026 menjadi salah satu pencapaian yang menandai perjalanan tersebut. Dari Kabupaten Bogor menuju panggung Asia, Noviera terus membuka peluang untuk melangkah lebih jauh dan mengejar impian berikutnya bersama tim para panahan Indonesia.


kreen
kreen
Author
399 artikel telah dipublikasikan