Partin Muhlisin Bangkit dari Cedera, Raih Emas dan Pecahkan Rekor Asian Para Games 2026
Perjuangan Partin Muhlisin di Asian Para Games 2026 menjadi bukti bahwa pemulihan dari cedera dapat membuka jalan menuju pencapaian besar. Sprinter asal Magelang, Jawa Tengah, itu berhasil meraih medali emas nomor lari 100 meter putra kategori T63 sekaligus memecahkan rekor Asian Para Games di Nagoya, Jepang.
Partin menuntaskan perlombaan pada Jumat, 23 Oktober 2026, dengan catatan waktu 12,37 detik. Ia unggul 0,35 detik atas pelari Thailand, Phalatip Khamta, yang finis di posisi kedua dengan waktu 12,72 detik.
Kemenangan tersebut terasa istimewa karena Partin sempat mengalami cedera hamstring pada awal tahun setelah mengikuti ASEAN Para Games 2025 di Thailand. Cedera itu membuatnya harus menjalani pemulihan selama sekitar tiga bulan sebelum kembali berlatih untuk menghadapi kompetisi besar di Jepang.
Medali emas Partin sekaligus menjadi penutup manis bagi perjuangan tim para atletik Indonesia di Asian Para Games 2026. Lebih dari sekadar hasil pertandingan, pencapaian ini memperlihatkan bagaimana proses pemulihan, latihan terstruktur, dan ketahanan mental berperan dalam perjalanan seorang atlet.
Sempat Menepi Tiga Bulan akibat Cedera Hamstring
Sebelum tampil di Nagoya, Partin harus melewati masa pemulihan yang tidak mudah. Cedera hamstring yang dialaminya setelah ASEAN Para Games 2025 membuatnya menepi dari lintasan selama sekitar tiga bulan.
Hamstring merupakan kelompok otot di bagian belakang paha yang berperan penting dalam gerakan berlari. Bagi sprinter, kondisi otot tersebut sangat menentukan kemampuan melakukan akselerasi, mempertahankan kecepatan, dan menyelesaikan perlombaan.
Partin mengungkapkan bahwa dirinya telah pulih sepenuhnya sekitar tiga bulan sebelum Asian Para Games 2026. Setelah kondisinya membaik, ia kembali menjalani program latihan yang disusun bersama tim pelatih para atletik Indonesia.
“ Sempat dilanda cedera di awal tahun, cederanya di bagian hamstring belakang kurang lebih tiga bulan. Tapi Alhamdulillah, H-3 bulan sebelum kejuaraan ini sudah benar-benar total sembuh,” ungkap Partin.
Masa pemulihan tersebut menjadi bagian penting dalam persiapannya. Ia harus kembali membangun performa setelah absen dari latihan dan memastikan kondisi fisiknya siap menghadapi persaingan di level Asia.
Latihan Pagi dan Sore untuk Mengejar Performa Terbaik
Setelah pulih dari cedera, Partin menjalani latihan intensif dengan program yang terstruktur. Latihan dilakukan setiap pagi dan sore, sementara waktu istirahat diberikan pada hari Minggu dan Sabtu sore.
Persiapan tersebut dirancang untuk membantunya mencapai performa terbaik pada Asian Para Games 2026. Bagi atlet yang berlomba dalam nomor sprint, persiapan bukan hanya tentang meningkatkan kecepatan, tetapi juga menjaga konsistensi, teknik, dan kesiapan menghadapi tekanan kompetisi.
Partin menyebut bahwa penampilan di Nagoya memang menjadi sasaran utama dari rangkaian persiapannya setelah mengikuti kompetisi sebelumnya di Thailand.
Kerja keras itu akhirnya terbayar di lintasan. Ia mampu menyelesaikan lari 100 meter T63 sebagai pelari tercepat sekaligus mencatatkan rekor baru Asian Para Games pada nomor tersebut.
Keberhasilan ini juga menunjukkan pentingnya dukungan tim pelatih dalam mendampingi atlet melewati proses pemulihan dan kembali ke arena pertandingan. Performa Partin tidak hadir secara instan, melainkan melalui latihan dan persiapan yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Kemenangan yang Diwarnai Tekanan hingga Garis Finis
Meski berhasil unggul atas para pesaingnya, Partin mengaku kemenangan tersebut tidak diraih tanpa tekanan. Ia sempat khawatir posisinya akan terkejar menjelang akhir perlombaan.
Persaingan di lintasan berlangsung ketat. Partin harus mempertahankan keunggulan hingga menyentuh garis finis, sementara para pesaingnya terus memberikan tekanan.
“Cukup emosional karena yang ditakutkan dari pelari-pelari T42 itu kan dikejar di bagian akhir oleh atlet T63. Tapi Alhamdulillah, sangat emosional sekali karena bisa mempertahankan posisi sampai akhir,” tuturnya.
Rasa haru yang muncul setelah perlombaan menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menuju podium tertinggi. Setelah melewati cedera dan kembali menjalani latihan, Partin akhirnya mampu menyelesaikan target yang telah dipersiapkan bersama tim.
Ia juga mempersembahkan medali emas tersebut kepada kedua orang tuanya di Desa Wonocoyo, Kecamatan Kaliangkrik, Magelang, serta para pelatih, tim para atletik, dan masyarakat Indonesia yang memberikan dukungan.
Bagi Partin, kemenangan ini bukan hanya pencapaian pribadi, melainkan hasil dari dukungan banyak pihak yang turut mengiringi perjalanannya sebagai atlet.
Para Atletik Indonesia Tutup Kompetisi dengan 22 Medali
Medali emas Partin menjadi hasil penting dalam penampilan tim para atletik Indonesia di Asian Para Games 2026. Secara keseluruhan, cabang olahraga tersebut mengoleksi 22 medali, terdiri atas tiga emas, delapan perak, dan 11 perunggu.
Selain Partin, dua medali emas lainnya diraih I Kadek Dwi Purwana Yasa pada nomor lempar cakram putra F57 dan Karisma Evi Tiarani pada nomor lari 100 meter putri T63.
Sementara itu, Ansyari menyumbangkan medali perak dari nomor lempar lembing putra F40-41. Saptoyogo Purnomo juga meraih perak pada nomor lari 200 meter putra T37, sedangkan Rica Oktavia membawa pulang perunggu dari nomor lompat jauh putri T20.
Rangkaian hasil tersebut menunjukkan kontribusi penting para atletik bagi kontingen Indonesia di Nagoya. Medali yang diraih para atlet tidak hanya menambah perolehan kontingen, tetapi juga menjadi hasil dari persiapan panjang menghadapi persaingan tingkat Asia.
Bidik Target 12 Detik dan Kejuaraan Dunia 2027
Setelah meraih emas dan memecahkan rekor Asian Para Games, Partin tidak ingin berhenti pada pencapaian tersebut. Ia mulai mengarahkan perhatian pada kompetisi internasional berikutnya, termasuk Kejuaraan Dunia Para Atletik yang direncanakan berlangsung di Uzbekistan pada 2027.
Partin juga menargetkan peningkatan performa agar mampu mencatatkan waktu 12,00 detik pada nomor lari 100 meter. Target tersebut menjadi tantangan berikutnya yang ingin ia kejar melalui latihan dan persiapan bersama tim pelatih.
Kejuaraan dunia dapat menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan menghadapi atlet-atlet terbaik dari berbagai negara. Pengalaman di Nagoya pun bisa menjadi bekal untuk mengevaluasi performa dan menyusun strategi menuju kompetisi berikutnya.
Bagi Partin, medali emas Asian Para Games 2026 bukanlah garis akhir. Kemenangan tersebut justru menjadi titik penting untuk melanjutkan perjalanan, meningkatkan catatan waktu, dan membuka peluang bersaing di panggung yang lebih tinggi.
Perjalanan dari cedera hingga berdiri di podium tertinggi menunjukkan bahwa pencapaian atlet dibangun melalui proses panjang. Kini, Partin memiliki target baru untuk dikejar, dengan harapan dapat kembali mengharumkan nama Indonesia dalam kompetisi para atletik internasional.
Baca Juga
Gischa Zayana Raih Emas Asian Para Games 2026, Akhiri Catatan Sulit Lawan Hong Kong
Felix Ardi Yudha Rebut Emas Kedelapan Indonesia di Asian Para Games 2026
Comeback Dramatis Handayani, Raih Emas Ketujuh Indonesia di Asian Para Games 2026