Terkini
Indonesia Absen dari Miss Universe 2026, Ini Penyebabnya Daftar Pemenang Miss Asia Pacific International dari Tahun ke Tahun KEPATIHAN MANAJEMEN / K MANAJEMEN PECAHKAN REKOR PESERTA FASHION SHOW TERBANYAK TAHUN 2026 MELALUI “KETAPANG ETHNIC DAY 2026” Dari Desa untuk Indonesia, Mendorong Aksi Nyata Generasi Muda; Pemilihan Duta Desa Indonesia Favorit 2026 Bersama Kreen Indonesia Audisi Jakarta International Got Talent 2026 jadi Panggung Bakat dan Kreativitas Bersama Voting Digital Kreen Indonesia Grand Final Miss Jawa Timur 2026 Umumkan Finalis Favorit di Empat Kategori, Dukungan Masyarakat Bersama Kreen Indonesia Junaedi Naik Kelas, Para Judo Indonesia Raih Dua Medali di Asian Para Games 2026 Barce Layaba Bangkit dari Keraguan, Raih Perunggu Asian Para Games 2026 Indonesia Absen dari Miss Universe 2026, Ini Penyebabnya Daftar Pemenang Miss Asia Pacific International dari Tahun ke Tahun KEPATIHAN MANAJEMEN / K MANAJEMEN PECAHKAN REKOR PESERTA FASHION SHOW TERBANYAK TAHUN 2026 MELALUI “KETAPANG ETHNIC DAY 2026” Dari Desa untuk Indonesia, Mendorong Aksi Nyata Generasi Muda; Pemilihan Duta Desa Indonesia Favorit 2026 Bersama Kreen Indonesia Audisi Jakarta International Got Talent 2026 jadi Panggung Bakat dan Kreativitas Bersama Voting Digital Kreen Indonesia Grand Final Miss Jawa Timur 2026 Umumkan Finalis Favorit di Empat Kategori, Dukungan Masyarakat Bersama Kreen Indonesia Junaedi Naik Kelas, Para Judo Indonesia Raih Dua Medali di Asian Para Games 2026 Barce Layaba Bangkit dari Keraguan, Raih Perunggu Asian Para Games 2026
Kreen Media
Sport

Kadek Dwi Pecahkan Rekor Dunia di Asian Para Games 2026, Emas untuk Orang Tua

kreen
kreen
Author
21 October 2026 5 menit baca
Kadek Dwi Pecahkan Rekor Dunia di Asian Para Games 2026, Emas untuk Orang Tua

I Kadek Dwi Purwana Yasa menorehkan pencapaian besar di Asian Para Games 2026. Atlet para atletik asal Bali tersebut tidak hanya membawa pulang medali emas untuk Indonesia, tetapi juga memecahkan rekor dunia nomor lempar cakram putra klasifikasi F57 dengan lemparan sejauh 49,75 meter.

Prestasi itu diraih di Nagoya City Mizuho Park Athletic Stadium, Jepang, pada Selasa (20/10/2026). Di balik keberhasilan tersebut, ada kisah personal yang membuat kemenangan Kadek terasa lebih bermakna. Atlet berusia 18 tahun itu mempersembahkan medali emas dan rekor dunia yang diraihnya untuk kedua orang tuanya, terutama sang ayah yang baru saja meninggal dunia.

Momen tersebut menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga tidak hanya berbicara tentang angka dan podium. Di balik pencapaian seorang atlet, ada proses panjang, dukungan keluarga, dan perjuangan untuk tetap melangkah ketika menghadapi situasi yang tidak mudah.

1. Lemparan Ketiga Antar Kadek Dwi Pecahkan Rekor Dunia

Penampilan Kadek Dwi dalam final lempar cakram F57 putra menunjukkan peningkatan jarak lemparan secara bertahap. Pada percobaan pertama, ia membukukan jarak 46,79 meter. Catatan tersebut kemudian meningkat menjadi 47,17 meter pada percobaan kedua.

Puncaknya terjadi pada percobaan ketiga. Kadek berhasil melontarkan cakram sejauh 49,75 meter, melampaui rekor dunia miliknya sendiri yang sebelumnya berada di angka 48,68 meter.

Rekor lama tersebut ia ciptakan dalam kejuaraan dunia di Meksiko pada Juli 2026. Dengan demikian, Kadek memperbaiki catatan terbaiknya sejauh 1,07 meter sekaligus membuktikan kemampuannya untuk terus berkembang di level internasional.

Ia masih mencatatkan lemparan sejauh 49,71 meter dan 49,46 meter pada dua percobaan berikutnya, sebelum menutup penampilan dengan jarak 43,67 meter. Namun, lemparan ketiga tetap menjadi hasil terbaik yang mengantarkannya meraih medali emas.

Keunggulan Kadek terlihat dari jarak lemparannya yang cukup jauh dibandingkan pesaing terdekat. Yorkinbek Odilov dari Uzbekistan menempati posisi kedua dengan catatan 45,10 meter, sedangkan Hussein Khazaee dari Irak berada di urutan ketiga dengan 45,06 meter.

Hasil tersebut memastikan Kadek berdiri di podium tertinggi sekaligus mencatatkan namanya dalam sejarah nomor lempar cakram F57.

2. Bertanding Tanpa Beban Meski Berstatus Pemegang Rekor Dunia

Datang ke Asian Para Games 2026 dengan status pemegang rekor dunia tentu menghadirkan ekspektasi tersendiri. Namun, Kadek mengaku tidak merasa terbebani oleh pencapaian yang sebelumnya ia raih.

Ia memilih tampil lepas dan berfokus pada pertandingan. Sikap tersebut membantunya menjalani setiap percobaan tanpa terlalu memikirkan status sebagai pemegang rekor dunia.

Setelah pertandingan, Kadek mengaku puas dengan hasil lemparannya. Ia juga menyebut bahwa jarak lemparannya ketika berlatih pernah mencapai lebih dari 50 meter. Meski demikian, hasil dalam pertandingan dapat dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kondisi angin.

Kemampuannya menjaga ketenangan menjadi salah satu hal penting dalam penampilan di Nagoya. Alih-alih menjadikan rekor sebelumnya sebagai tekanan, Kadek justru mampu melampauinya dengan catatan baru.

Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa konsistensi latihan dan kesiapan mental sama pentingnya dengan kemampuan teknis. Bagi atlet yang bersaing di tingkat internasional, mempertahankan fokus dalam situasi kompetitif merupakan bagian dari perjuangan untuk mencapai hasil terbaik.

3. Emas yang Dipersembahkan untuk Kedua Orang Tua

Di balik keberhasilan Kadek Dwi pecahkan rekor dunia, terdapat kisah keluarga yang menyentuh. Sebelum berangkat ke Jepang, ia tengah menghadapi suasana duka setelah ayahnya meninggal dunia.

Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi atlet muda itu ketika harus bersiap menghadapi kompetisi besar. Meski demikian, Kadek tetap menjalani pertandingan dan mampu memberikan hasil terbaik bagi Indonesia.

Ketika ditanya mengenai sosok yang menerima persembahan medali emasnya, Kadek menyebut kedua orang tuanya, terutama sang ayah. Ia tidak mampu menyembunyikan rasa haru saat menyampaikan pesan singkat tersebut.

Bagi Kadek, pencapaian di Asian Para Games 2026 bukan sekadar kemenangan dalam kompetisi. Medali emas itu juga menjadi bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih kepada orang tua yang memiliki arti penting dalam perjalanan hidupnya.

Momen emosional tersebut memberikan dimensi lain pada prestasinya. Rekor dunia yang tercipta di Nagoya tidak hanya menjadi catatan dalam dunia olahraga, tetapi juga membawa makna personal bagi seorang atlet muda yang sedang menghadapi kehilangan.

4. Emas Kedua Indonesia dan Awal Prestasi Para Atletik

Medali emas Kadek menjadi emas kedua bagi kontingen Indonesia di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Pencapaian itu sekaligus menjadi emas pertama Indonesia dari cabang para atletik pada ajang tersebut.

Sebelumnya, Maulana Rifky Yavianda menyumbangkan medali emas melalui nomor renang 100 meter gaya bebas S12 putra. Kehadiran emas dari Kadek menambah kontribusi Indonesia dalam persaingan antarkontingen di Asia.

Hasil ini juga memperlihatkan potensi atlet para atletik Indonesia untuk bersaing di tingkat dunia. Kadek tidak hanya mampu mengungguli lawan-lawannya di Asia, tetapi juga memperbaiki rekor dunia yang sebelumnya ia pegang sendiri.

Keberhasilan tersebut menjadi modal penting bagi perjalanan kariernya. Pada usia 18 tahun, Kadek masih memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperbaiki catatan, dan mengikuti berbagai kompetisi internasional berikutnya.

5. Menatap Los Angeles 2028 dengan Target Baru

Setelah menyelesaikan Asian Para Games 2026, Kadek mulai memikirkan peluang untuk tampil di Paralimpiade Los Angeles 2028. Namun, ia menghadapi tantangan karena nomor lempar cakram pada klasifikasi yang diikutinya tidak dipertandingkan dalam Paralimpiade tersebut.

Karena itu, Kadek mempertimbangkan kemungkinan beralih ke nomor lempar lembing. Perubahan nomor tentu membutuhkan persiapan, adaptasi teknik, dan proses latihan yang tidak singkat.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upayanya menjaga peluang untuk tampil di panggung olahraga terbesar bagi atlet para. Dengan waktu yang masih tersedia menuju Los Angeles 2028, Kadek berharap dapat mempersiapkan diri dan memenuhi target berikutnya.

Meski rencana itu masih membutuhkan proses, keberhasilannya di Asian Para Games 2026 menjadi bekal berharga. Ia telah membuktikan mampu tampil maksimal dalam kompetisi besar sekaligus meningkatkan rekor dunia miliknya sendiri.

Prestasi Kadek Dwi Purwana Yasa di Nagoya pada akhirnya menghadirkan dua pencapaian sekaligus: medali emas untuk Indonesia dan rekor dunia baru. Namun, lebih dari angka 49,75 meter yang tercatat di papan hasil, kemenangan tersebut juga membawa pesan tentang ketekunan, dukungan keluarga, dan keberanian untuk terus berjuang di tengah masa sulit.


kreen
kreen
Author
399 artikel telah dipublikasikan