Barce Layaba Bangkit dari Keraguan, Raih Perunggu Asian Para Games 2026
Ada masa ketika Barce Layaba sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan tenis meja. Keterbatasan fasilitas latihan dan minimnya teman berlatih di kampung halamannya, Maluku, membuat atlet para tenis meja Indonesia itu kesulitan mengembangkan kemampuannya. Namun, perjalanan yang nyaris terhenti tersebut justru membawanya menuju panggung olahraga terbesar di Asia untuk atlet disabilitas.
Pada debutnya di Asian Para Games 2026, Barce berhasil mempersembahkan medali perunggu bagi Indonesia. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kesempatan, lingkungan latihan yang mendukung, dan kemauan untuk bangkit dapat membuka jalan menuju pencapaian yang lebih besar.
Dari Maluku ke Solo, Titik Balik Karier Barce Layaba
Perjalanan Barce di cabang olahraga tenis meja telah dimulai sejak 2010. Akan tetapi, semangatnya sempat goyah karena kondisi latihan di daerah asalnya belum mendukung perkembangan seorang atlet secara optimal.
Meski tersedia pelatih, kesempatan untuk berlatih bersama lawan atau teman sparring masih terbatas. Kurangnya jam terbang membuat Barce kesulitan mendapatkan pengalaman pertandingan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas permainannya.
Kondisi tersebut bahkan sempat membuatnya berpikir untuk mencari jalan lain di luar tenis meja.
Titik balik kariernya datang pada 2022, ketika Barce pindah ke Solo menjelang ASEAN Para Games. Di kota tersebut, ia mendapatkan lingkungan latihan dengan standar yang lebih baik, kesempatan bertanding yang lebih banyak, serta teman sparring yang mendukung perkembangan kemampuannya.
Perubahan lingkungan itu menjadi momentum bagi Barce untuk kembali membangun keyakinan terhadap karier olahraganya.
Ia pun kembali menekuni latihan dengan tekad untuk berkembang dan membuktikan kemampuannya di kompetisi yang lebih tinggi. Perjalanan tersebut akhirnya mengantarkannya tampil di Asian Para Games 2026.
Medali Perunggu dari Debut Asian Para Games 2026
Barce Layaba memastikan medali perunggu untuk Indonesia melalui nomor tunggal putra klasifikasi TT4-5 pada Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Pertandingan semifinal berlangsung di Sky Hall Toyota, Jepang, pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Dalam laga tersebut, Barce menghadapi atlet unggulan asal China, Peng Zhengyang. Ia harus mengakui keunggulan lawannya setelah pertandingan berakhir dengan skor 1-3, yakni 9-11, 4-11, 13-11, dan 9-11.
Barce sempat memberikan perlawanan dan merebut gim ketiga dengan skor 13-11. Namun, upayanya untuk membalikkan keadaan belum berhasil setelah Peng kembali mengamankan gim keempat.
Meski gagal melaju ke final, langkah Barce hingga semifinal sudah memastikan dirinya meraih medali perunggu. Capaian ini menjadi pencapaian penting dalam penampilan pertamanya di ajang Asian Para Games.
Barce mengaku bersyukur dapat memberikan hasil terbaik bagi Indonesia. Baginya, kesempatan tampil di kompetisi tingkat Asia tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus bukti perkembangan yang telah dicapainya selama menjalani latihan.
Tantangan Tenis Meja Kursi Roda Bukan Sekadar Pukulan
Sebagai atlet para tenis meja yang menggunakan kursi roda, Barce menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan teknik memukul bola. Ia juga perlu menguasai pergerakan kursi roda untuk menyesuaikan diri dengan karakter permainan lawan.
Setiap lawan memiliki strategi berbeda. Pemain dengan gaya bertahan membutuhkan pendekatan tersendiri, begitu pula lawan yang mengandalkan serangan cepat dan pukulan keras.
Karena itu, latihan Barce juga berfokus pada kemampuan mengendalikan kursi roda, termasuk mengatur pergerakan maju dan mundur serta menjangkau bola-bola pendek di dekat net.
Keterampilan tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga posisi dan mengembalikan bola secara efektif selama pertandingan.
Saat menghadapi Peng Zhengyang di semifinal, Barce mengakui bahwa kecepatan permainan dan kerasnya pukulan lawan menjadi tantangan tersendiri. Pertandingan itu menguras tenaga sekaligus konsentrasinya dalam menentukan strategi yang tepat.
Meski demikian, pengalaman menghadapi atlet unggulan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Barce untuk meningkatkan kualitas permainan pada kompetisi berikutnya.
Perunggu Bukan Akhir Perjuangan Barce Layaba
Bagi Barce, medali perunggu Asian Para Games 2026 bukanlah alasan untuk berhenti berkembang. Ia memandang hasil tersebut sebagai bekal untuk memperbaiki kekurangan dan mempersiapkan diri menghadapi pertandingan selanjutnya.
Dukungan keluarga, pelatih, dan sesama atlet juga menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Barce menyampaikan rasa terima kasih kepada orang-orang yang terus mendukungnya hingga mampu mencapai panggung kompetisi Asia.
Perjuangannya di Nagoya pun belum selesai. Setelah menyelesaikan nomor tunggal putra, Barce dijadwalkan melanjutkan persaingan pada nomor ganda campuran bersama Leli Marlina di kelas XD10.
Ia menyadari bahwa setiap lawan memiliki persiapan dan ambisi yang sama untuk meraih hasil terbaik. Karena itu, fokus dan kesiapan menghadapi pertandingan menjadi hal yang perlu terus dijaga.
Keberhasilan Barce meraih medali perunggu pada debut Asian Para Games 2026 menunjukkan perjalanan seorang atlet yang mampu bangkit setelah menghadapi keterbatasan. Dari sempat meragukan masa depannya di tenis meja hingga berdiri di podium kompetisi Asia, Barce membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu berjalan lurus, tetapi tetap dapat membawa seseorang menuju pencapaian yang berarti.
Baca Juga
Junaedi Naik Kelas, Para Judo Indonesia Raih Dua Medali di Asian Para Games 2026
Kadek Dwi Pecahkan Rekor Dunia di Asian Para Games 2026, Emas untuk Orang Tua
Fadli Imammuddin Pecahkan Rekor Asian Para Games 2026, Cetak Hattrick Emas