Ni Nengah Widiasih Raih Medali Pertama Indonesia, Tepati Janji untuk Ibu
Atlet para angkat berat Indonesia, Ni Nengah Widiasih, membuka perolehan medali kontingen Merah Putih di Asian Para Games 2026. Ia meraih medali perunggu pada nomor 41 kilogram putri di Nagoya City Trade and Industry Center, Jepang, Senin (19/10/2026). Namun, di balik pencapaian tersebut, tersimpan cerita tentang perjuangan melawan cedera dan janji yang ingin ia tepati kepada mendiang ibunya.
Atlet yang akrab disapa Widi itu mencatatkan angkatan terbaik seberat 97 kilogram. Hasil tersebut menempatkannya di posisi ketiga sekaligus memastikan medali pertama bagi Indonesia dalam ajang olahraga disabilitas terbesar di Asia tersebut.
Bagi Widi, medali ini bukan sekadar tambahan prestasi dalam perjalanan kariernya. Ia juga menjadi simbol keteguhan untuk kembali bertanding setelah melewati masa sulit, termasuk kehilangan sang ibu menjelang Paralimpiade Paris 2024.
Medali perunggu di tengah kondisi bahu yang belum pulih
Perjuangan Ni Nengah Widiasih di Asian Para Games 2026 tidak berlangsung dalam kondisi ideal. Ia masih menjalani pemulihan cedera robek otot bahu yang dialaminya saat mengikuti kejuaraan di Mesir pada Desember 2025.
Cedera tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi atlet yang mengandalkan kekuatan dan teknik untuk mengangkat beban. Meski telah mendapatkan penanganan, kondisi bahunya belum pulih sepenuhnya ketika ia berlaga di Nagoya.
Dalam pertandingan kelas 41 kilogram putri, Widi berhasil membukukan angkatan terbaik 97 kilogram. Ia harus mengakui keunggulan Cui Zhe dari China yang mengangkat 120 kilogram dan Tursynay Kabyl dari Kazakhstan dengan angkatan 104 kilogram.
Hasil tersebut menempatkan Widi di podium ketiga. Walaupun kali ini belum berhasil meraih emas atau perak, ia tetap bersyukur dapat menyumbangkan medali bagi Indonesia di tengah keterbatasan kondisi fisiknya.
Perunggu di Nagoya juga menjadi medali perunggu pertama Widi sepanjang keikutsertaannya di Asian Para Games. Pada tiga edisi sebelumnya, yakni 2014, 2018, dan 2022, atlet asal Bali itu selalu membawa pulang medali perak.
Perubahan warna medali tidak menghapus konsistensi yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Di tengah persaingan yang semakin ketat, Widi masih mampu mempertahankan posisinya di antara atlet terbaik Asia.
Janji untuk mendiang ibu menjadi kekuatan tersendiri
Di balik keberhasilan Widi menjadi penyumbang medali pertama Indonesia, ada kenangan personal yang membuat pencapaiannya terasa lebih bermakna. Medali perunggu Asian Para Games 2026 ia persembahkan untuk mendiang ibunya.
Widi pernah melewati masa yang sangat berat ketika sang ibu meninggal dunia sekitar dua pekan sebelum ia bertanding di Paralimpiade Paris 2024. Kehilangan tersebut memengaruhi kondisi mentalnya, terlebih ia ingin mewujudkan impian sang ibu untuk melihatnya mencetak hattrick medali Paralimpiade.
Namun, kesempatan itu belum berhasil ia raih. Pengalaman tersebut meninggalkan kesedihan yang mendalam sekaligus menjadi bagian dari perjalanan yang harus ia hadapi sebagai seorang atlet.
Menjelang Asian Para Games 2026, Widi membawa keinginan untuk kembali berjuang dan mempersembahkan medali bagi ibunya. Ia ingin menunjukkan bahwa meskipun sang ibu telah tiada, dukungan dan kenangan tentangnya tetap menjadi bagian penting dalam hidup.
Setelah pertandingan di Nagoya, Widi mengungkapkan keyakinannya bahwa sang ibu tetap menyaksikan perjuangannya. Ia juga menyampaikan bahwa medali tersebut secara khusus dipersembahkan untuk keluarga di rumah.
Momen itu memberikan dimensi lain pada prestasinya. Di luar angka angkatan dan posisi klasemen, medali yang diraih Widi menjadi wujud dari janji personal yang ingin ia tunaikan.
Konsistensi Widi menghadapi persaingan generasi baru
Perjalanan Widi di Asian Para Games memperlihatkan konsistensinya sebagai salah satu andalan para angkat berat Indonesia. Tiga medali perak yang diraih pada edisi 2014, 2018, dan 2022 menjadi bukti bahwa ia mampu bersaing dalam jangka panjang.
Namun, persaingan di kelas 41 kilogram putri kini semakin menantang. Kehadiran atlet-atlet muda dengan kemampuan angkatan yang kuat membuat perebutan podium semakin kompetitif.
Widi menyadari perubahan tersebut. Ia tetap bersyukur masih mampu menjaga performa dan bersaing dengan atlet yang lebih muda, meskipun harus menghadapi persoalan cedera.
Pengalaman panjangnya di kompetisi internasional menjadi bekal untuk menghadapi situasi tersebut. Ia tidak hanya dituntut menjaga kekuatan fisik, tetapi juga mengatur strategi dan memahami batas kemampuan tubuh selama proses pemulihan.
Medali perunggu di Nagoya memperlihatkan bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Ada masa ketika pencapaian harus diperjuangkan dengan kondisi yang berbeda, sementara standar persaingan terus meningkat.
Bagi Widi, mempertahankan kemampuan untuk tetap bersaing menjadi hal penting di tengah perubahan tersebut.
Fokus pemulihan dan peluang menuju Paralimpiade 2028
Setelah Asian Para Games 2026, perhatian Widi tertuju pada pemulihan cedera bahu dan upaya memperbaiki peringkat dunia. Ia ingin menjaga peluang untuk tampil di Paralimpiade Los Angeles 2028.
Target tersebut membuat proses rehabilitasi menjadi bagian penting dari rencana berikutnya. Widi mendapatkan pendampingan tim medis dan fisioterapis untuk membantu pemulihan, sembari berusaha menjaga kondisi fisik agar tetap kompetitif.
Ia juga menyadari bahwa proses menuju Paralimpiade membutuhkan persiapan yang terukur. Memaksakan diri untuk mengejar hasil dalam waktu singkat bukan satu-satunya jalan, terutama ketika tubuh masih membutuhkan pemulihan.
Asian Para Games 2026 menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan itu. Medali perunggu yang diraih Widi tidak hanya membuka perolehan medali Indonesia, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pengalaman dan ketekunan tetap memiliki peran besar dalam persaingan olahraga tingkat tinggi.
Bagi kontingen Merah Putih, pencapaian Widi menjadi awal perjuangan di Nagoya. Sementara bagi dirinya sendiri, medali tersebut membawa arti yang lebih personal: sebuah persembahan bagi mendiang ibu sekaligus bukti bahwa ia masih mampu bertahan di tengah tantangan.
Perjalanan Widi belum selesai. Dengan fokus pada pemulihan dan target berikutnya, ia masih berupaya membuka kesempatan untuk kembali tampil di panggung olahraga dunia. Di Nagoya, ia telah membawa pulang medali untuk Indonesia sekaligus menepati janji yang begitu berarti bagi dirinya dan keluarganya.
Baca Juga
Junaedi Naik Kelas, Para Judo Indonesia Raih Dua Medali di Asian Para Games 2026
Barce Layaba Bangkit dari Keraguan, Raih Perunggu Asian Para Games 2026
Kadek Dwi Pecahkan Rekor Dunia di Asian Para Games 2026, Emas untuk Orang Tua