Terkini
Kreen Media
Sport

Para-meter Archery Indonesia Open 2026 Jadi Ujian Atlet Para Panahan

K
Kreen Media
10 August 2026 1 menit baca
Para-meter Archery Indonesia Open 2026 Jadi Ujian Atlet Para Panahan

Sumber foto: NPC Indonesia

Para-meter Archery Indonesia Open 2026 Jadi Ujian Mental Atlet Para Panahan Indonesia

Persiapan menuju Asian Para Games 2026 tidak hanya dilakukan melalui latihan rutin. Tim para panahan Indonesia juga membutuhkan pertandingan dengan tekanan nyata untuk mengukur kesiapan atlet sebelum menghadapi kompetisi yang lebih besar.

Kebutuhan tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Para-meter Archery Indonesia Open 2026 yang berlangsung di Lapangan FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, pada 7-8 Agustus 2026. Turnamen yang diinisiasi National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) ini menghadirkan format pertandingan yang sengaja dirancang untuk menguji kemampuan sekaligus mental para atlet.

Menariknya, kompetisi tersebut tidak hanya mempertemukan atlet disabilitas. Dari total 65 peserta, sebanyak 40 di antaranya merupakan atlet non-disabilitas. Kehadiran mereka justru menjadi bagian dari strategi untuk menciptakan suasana pertandingan yang lebih kompetitif bagi para atlet para panahan Indonesia.

1. Bukan Sekadar Turnamen, tetapi Simulasi Menuju Asian Para Games

Para-meter Archery Indonesia Open 2026 memiliki fungsi yang lebih besar dibandingkan sekadar perebutan medali. Bagi tim para panahan Indonesia, turnamen ini menjadi salah satu kesempatan untuk mengevaluasi kesiapan atlet sebelum tampil di Asian Para Games 2026.

Pelatih para panahan Indonesia, Idya Putra Harjianto, menyebut pertandingan dengan atlet non-disabilitas memberikan pengalaman berbeda bagi para atletnya. Selama ini, mereka lebih sering menghadapi sesama atlet disabilitas sehingga suasana kompetisi dalam turnamen kali ini diharapkan mampu memberikan tantangan mental tambahan.

Tekanan tersebut menjadi penting karena kemampuan teknis bukan satu-satunya faktor yang menentukan hasil pertandingan panahan. Konsentrasi, kemampuan mengendalikan emosi, dan ketenangan ketika menghadapi lawan menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Karena itulah, atmosfer kompetisi di Para-meter Archery Indonesia Open 2026 dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pematangan atlet sebelum menghadapi panggung yang lebih besar.

2. Atlet Disabilitas dan Non-Disabilitas Bertemu di Satu Kompetisi

Salah satu keunikan Para-meter Archery Indonesia Open 2026 adalah keterlibatan atlet non-disabilitas dalam kompetisi yang diinisiasi untuk pengembangan para panahan.

Dari 65 peserta, 40 atlet berstatus non-disabilitas. Meski demikian, sejumlah atlet para panahan Indonesia mampu melaju hingga fase akhir dan bersaing dalam perebutan gelar.

Format tersebut memberikan pengalaman tersendiri bagi para atlet. Mereka tidak hanya dituntut mempertahankan akurasi tembakan, tetapi juga harus mampu menghadapi lawan dengan karakter dan pengalaman pertandingan yang berbeda.

Di sisi lain, penyelenggaraan ini juga membuka ruang interaksi antara atlet disabilitas dan non-disabilitas. NPC Indonesia berharap konsep tersebut dapat membantu memperluas perhatian terhadap cabang olahraga para panahan sekaligus mendorong semakin banyak atlet yang tertarik menekuninya.

Ketua penyelenggara Para-meter Archery Indonesia Open 2026, Rameez Ali, berharap turnamen tersebut dapat digelar secara rutin setiap tahun.

3. Ken Swagumilang Tampil Dominan dan Raih Dua Emas

Di tengah persaingan ketat, atlet para panahan Indonesia Ken Swagumilang tampil sebagai salah satu nama yang paling menonjol.

Ken sukses meraih dua medali emas di nomor compound. Emas pertama diperoleh melalui nomor individu setelah mengalahkan Dimas Maulana dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan skor 142-138.

Perjalanannya menuju final juga tidak mudah. Pada babak semifinal, Ken harus menghadapi Muhammad Faris Ardiansyah, juara Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2025.

Pertandingan tersebut berlangsung ketat. Ken akhirnya mengamankan tiket final setelah menang tipis dengan skor 147-145.

Keberhasilan tersebut kemudian berlanjut di nomor mixed team. Berpasangan dengan Teodora Audi Ayudia Ferelly, Ken kembali mencapai podium tertinggi.

Duet Ken dan Audi mengumpulkan 152 poin di partai final. Mereka mengungguli pasangan Dimas Maulana dan Qanita Syauqina yang mengoleksi 147 poin.

Dua medali emas Ken turut mengantarkan tim para panahan Indonesia menjadi juara umum.

4. Kholidin dan Noviera Tambah Satu Medali Perak

Selain Ken Swagumilang dan Teodora Audi Ayudia Ferelly, atlet para panahan Indonesia lainnya juga berhasil membawa pulang medali.

Kholidin dan Noviera Ross meraih medali perak dari nomor mixed team recurve. Mereka harus mengakui keunggulan pasangan PPLOP Jawa Tengah, Daffa Indika Haidar dan Vinethea Natyasha.

Pertandingan perebutan emas tersebut berakhir dengan skor 1-5 untuk keunggulan pasangan PPLOP Jawa Tengah.

Hasil itu membuat kontingen para panahan Indonesia mengakhiri turnamen dengan raihan dua medali emas dan satu medali perak.

Perolehan tersebut cukup untuk menempatkan mereka di posisi teratas klasemen akhir. PPLOP Jawa Tengah berada di posisi berikutnya dengan dua emas dan satu perunggu, sedangkan Kota Surakarta mengoleksi satu emas, satu perak, dan satu perunggu.

5. Format Pertandingan Sengaja Dibuat Lebih Menantang

Selain mempertemukan atlet dengan latar belakang berbeda, tim pelatih juga melakukan sejumlah penyesuaian dalam pertandingan.

Salah satunya adalah penggunaan satu bantalan untuk tiga peserta. Dalam kondisi pertandingan yang biasanya dihadapi para atlet, satu bantalan digunakan oleh dua peserta.

Penyesuaian lainnya adalah penggunaan sistem alternate shoot mulai babak kedua.

Format tersebut menjadi perhatian khusus tim pelatih karena sebelumnya atlet Indonesia sempat mengalami kegugupan ketika menghadapi sistem serupa pada kejuaraan dunia di Novemesto, Republik Ceko, yang berlangsung 29 Juni-4 Juli 2026.

Karena itu, penerapan alternate shoot di Para-meter Archery Indonesia Open 2026 menjadi kesempatan untuk membiasakan para atlet menghadapi situasi yang kemungkinan kembali mereka temui dalam kompetisi internasional.

Dengan kata lain, setiap detail dalam turnamen ini dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi.

6. Ujian Mental Sebelum Menghadapi Kompetisi Internasional

Bagi atlet para panahan Indonesia, pengalaman bertanding dalam situasi yang tidak biasa menjadi bagian penting dari persiapan.

Idya Putra Harjianto menilai pertandingan melawan atlet non-disabilitas dapat memberikan tekanan mental yang berbeda. Atlet harus mampu menjaga konsentrasi meskipun menghadapi lawan dengan kemampuan yang kompetitif.

Hal tersebut menjadi semakin relevan karena agenda besar sudah menanti. Setelah Para-meter Archery Indonesia Open 2026, tim para panahan Indonesia dijadwalkan tampil di Hyundai World Archery Para Series 2026 di Ahmedabad, India, pada 5-9 September 2026.

Kejuaraan tersebut bukan sekadar ajang menguji kemampuan. Para atlet juga akan memburu poin yang dapat membuka peluang menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.

Sementara itu, Asian Para Games 2026 menjadi target besar lainnya yang membutuhkan kesiapan secara menyeluruh.

7. Para-meter Archery Dorong Masa Depan Para Panahan Indonesia

Penyelenggaraan Para-meter Archery Indonesia Open 2026 memperlihatkan bahwa pembinaan atlet tidak berhenti pada sesi latihan.

Pertandingan dengan format yang berbeda, kehadiran atlet non-disabilitas, serta penerapan sistem alternate shoot memberikan ruang bagi para atlet untuk menghadapi tekanan yang lebih beragam.

Bagi NPC Indonesia, kompetisi seperti ini juga memiliki misi lain, yakni mempertemukan atlet disabilitas dan non-disabilitas sekaligus meningkatkan minat terhadap cabang olahraga para panahan.

Sejumlah atlet disabilitas dari berbagai daerah, mulai dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat hingga Sumatera Barat, ikut ambil bagian dalam turnamen tersebut.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa potensi atlet para panahan Indonesia tersebar di berbagai wilayah. Jika kompetisi serupa dapat berlangsung secara rutin, kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan talenta baru juga semakin terbuka.

Pada akhirnya, Para-meter Archery Indonesia Open 2026 bukan hanya soal siapa yang berdiri di podium. Di balik persaingan 65 pemanah, terdapat proses panjang untuk membentuk atlet yang lebih siap menghadapi tekanan, lebih terbiasa dengan format pertandingan internasional, dan semakin matang menuju kompetisi besar.

Dengan Asian Para Games 2026 dan agenda internasional berikutnya di depan mata, pengalaman yang didapat di Surakarta menjadi modal penting bagi perjalanan tim para panahan Indonesia.

Ikuti terus update seputar dunia sports di sini!