Suci Kirana Dewi, Atlet Boccia asal Boyolali yang Bawa Pulang Perak dari ASEAN Para Games 2025
Nama Suci Kirana Dewi menjadi salah satu atlet Indonesia yang berhasil menyumbangkan medali dari cabang olahraga boccia pada ASEAN Para Games 2025. Atlet asal Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tersebut sukses meraih medali perak di nomor Women's Individual BC3 setelah menembus partai final ajang multicabang olahraga terbesar bagi atlet paralimpik di Asia Tenggara itu.
Meski harus mengakui keunggulan wakil Singapura, Nurulasyiqah Binte Mohammad Taha, dengan skor 1-6 pada pertandingan final, pencapaian Suci Kirana Dewi tetap menjadi prestasi penting. Perjalanan hingga mencapai pertandingan perebutan medali emas menunjukkan bahwa atlet boccia asal Boyolali tersebut mampu bersaing dengan para pemain terbaik Asia Tenggara.
Menariknya, perjalanan Suci menuju medali perak tidak bisa hanya dilihat dari hasil akhir pertandingan. Sebelum kembali bertemu di partai puncak, Suci justru pernah mengalahkan Nurulasyiqah pada fase preliminary dengan skor 3-2. Hasil tersebut menunjukkan persaingan ketat antara kedua atlet sebelum akhirnya wakil Singapura membalikkan keadaan di pertandingan final.
Prestasi tersebut sekaligus menempatkan nama Suci Kirana Dewi sebagai salah satu bagian penting dari keberhasilan tim boccia Indonesia di ASEAN Para Games 2025 yang digelar di Nakhon Ratchasima, Thailand, pada Januari 2026.
Dari Boyolali Menuju Panggung ASEAN Para Games
Suci Kirana Dewi merupakan atlet boccia yang berasal dari Jawa Tengah dan memperkuat kontingen Indonesia pada ASEAN Para Games 2025. Sebelum keberangkatannya ke Thailand, namanya termasuk dalam lima atlet asal Boyolali yang dilepas untuk membela Merah Putih di ajang tersebut.
Selain Suci, sejumlah atlet dari Boyolali juga memperkuat Indonesia di cabang olahraga lainnya. Kehadiran Suci dalam kontingen tersebut menunjukkan kontribusi daerah dalam melahirkan atlet-atlet paralimpik yang mampu tampil di level internasional.
Persiapannya menuju ASEAN Para Games pun dilakukan melalui pemusatan latihan nasional. Suci bersama atlet-atlet boccia Indonesia menjalani persiapan di Paralympic Training Center, Delingan, Karanganyar, Jawa Tengah, sebelum berangkat ke Thailand.
Bagi seorang atlet, perjalanan menuju kompetisi internasional tentu tidak hanya ditentukan oleh pertandingan yang berlangsung selama beberapa hari. Latihan, evaluasi teknik, persiapan mental, hingga strategi menghadapi lawan menjadi bagian dari proses panjang sebelum akhirnya tampil membawa nama Indonesia.
Suci kemudian membuktikan hasil persiapan tersebut dengan tampil hingga pertandingan final nomor Women's Individual BC3.
Sempat Menang atas Lawan di Final
Salah satu fakta menarik dari perjalanan Suci Kirana Dewi di ASEAN Para Games 2025 adalah pertemuannya dengan Nurulasyiqah yang terjadi lebih dari sekali.
Pada babak preliminary yang berlangsung pada 21 Januari 2026, Suci berhasil mengalahkan atlet Singapura tersebut dengan skor 3-2. Kemenangan itu memperlihatkan bahwa Suci memiliki kemampuan untuk memberikan perlawanan ketat kepada salah satu atlet terbaik di nomor BC3.
Namun, situasi berbeda terjadi ketika keduanya kembali bertemu pada pertandingan final, 23 Januari 2026. Nurulasyiqah tampil lebih efektif dan akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor 6-1 untuk mengamankan medali emas, sementara Suci Kirana Dewi membawa pulang medali perak bagi Indonesia.
Meski belum berhasil merebut medali emas, pencapaian tersebut tetap menunjukkan perjalanan kompetitif yang dilalui Suci. Tidak mudah mencapai pertandingan puncak dalam kompetisi internasional, terutama ketika harus menghadapi atlet dari berbagai negara dengan pengalaman dan karakter permainan yang berbeda.
Medali perak yang diraih Suci menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kekuatan yang patut diperhitungkan di nomor boccia BC3.
Memahami Nomor Boccia BC3
Boccia merupakan salah satu cabang olahraga paralimpik yang membutuhkan tingkat konsentrasi dan ketepatan tinggi. Dalam pertandingan, atlet berusaha menempatkan bola sedekat mungkin dengan bola target atau jack.
Cabang olahraga ini memiliki sejumlah klasifikasi berdasarkan kemampuan fungsional atlet. Pada kategori BC3, atlet dapat menggunakan ramp atau alat bantu untuk menggelindingkan bola menuju target. Karena itu, pertandingan bukan sekadar soal kekuatan fisik, tetapi juga membutuhkan strategi, ketelitian, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang tepat.
Setiap lemparan atau bola yang dimainkan dapat mengubah posisi pertandingan. Atlet harus mampu memperhitungkan jarak, arah, posisi bola lawan, hingga peluang untuk mendapatkan poin.
Karakter olahraga tersebut membuat pertandingan boccia sering berlangsung penuh strategi. Kesalahan kecil dapat dimanfaatkan lawan, sementara satu keputusan yang tepat bisa mengubah jalannya pertandingan.
Dalam konteks itu, keberhasilan Suci Kirana Dewi meraih medali perak Women's Individual BC3 menunjukkan kemampuannya untuk melewati rangkaian pertandingan hingga mencapai posisi dua terbaik di ajang tersebut.
Tambah Medali untuk Tim Boccia Indonesia
Prestasi Suci juga menjadi bagian dari pencapaian keseluruhan tim boccia Indonesia di ASEAN Para Games 2025.
Pada ajang tersebut, Indonesia mengumpulkan total tiga medali emas, dua medali perak, dan lima medali perunggu dari cabang olahraga boccia. Selain Suci Kirana Dewi, medali perak lainnya diraih oleh Intan Cahaya Putri dari nomor individual BC2 putri.
Indonesia juga meraih medali emas melalui Handayani di nomor individual BC1 putri, Gischa Zayana pada nomor individual BC2 putri, serta tim beregu campuran BC1-2 yang diperkuat Muhamad Afrizal Syafa, Felix Ardi Yudha, dan Gischa Zayana.
Sementara itu, Suci tidak berhenti menyumbang prestasi hanya melalui nomor individual. Ia juga menjadi bagian dari pasangan Indonesia yang meraih medali perunggu di nomor ganda campuran BC3 bersama Fendy Kurnia Pamungkas.
Artinya, Suci Kirana Dewi pulang dari ASEAN Para Games 2025 dengan lebih dari satu pencapaian, yakni medali perak dari nomor individu dan medali perunggu dari nomor pasangan BC3.
Perak yang Menjadi Bukti Perjuangan
Medali perak memang sering kali terasa dekat dengan medali emas. Namun, di balik hasil tersebut terdapat perjalanan panjang yang telah dilalui seorang atlet.
Bagi Suci Kirana Dewi, keberhasilan mencapai final dan membawa pulang medali menjadi bukti bahwa dirinya mampu bersaing di level Asia Tenggara. Terlebih, ia sebelumnya juga mampu mengalahkan lawan yang sama pada babak preliminary sebelum kembali bertemu di pertandingan puncak.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa hasil akhir tidak selalu menggambarkan keseluruhan perjuangan seorang atlet. Kekalahan di final tidak menghapus kemenangan-kemenangan dan performa yang membawa Suci hingga ke partai perebutan medali emas.
Prestasi ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Boyolali dan Jawa Tengah. Dari daerah, Suci Kirana Dewi menjalani perjalanan sebagai atlet hingga akhirnya tampil membela Indonesia di panggung internasional.
ASEAN Para Games 2025 pun menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan kariernya. Medali perak Women's Individual BC3 bukan sekadar tambahan koleksi prestasi, tetapi juga bukti bahwa Suci Kirana Dewi merupakan salah satu kekuatan Indonesia di cabang olahraga boccia.
Dengan pengalaman bertanding di kompetisi internasional dan pencapaian yang telah diraih, perjalanan Suci tentu masih menarik untuk terus diikuti. Medali perak dari Thailand dapat menjadi modal berharga untuk menghadapi kompetisi berikutnya dan membuka peluang bagi atlet asal Boyolali tersebut untuk kembali mengejar podium tertinggi.
Pada akhirnya, keberhasilan Suci Kirana Dewi di ASEAN Para Games 2025 menjadi pengingat bahwa perjuangan atlet Indonesia tidak hanya terjadi di cabang olahraga yang populer. Di arena boccia, Suci membuktikan bahwa ketenangan, strategi, ketelitian, dan kerja keras dapat membawa seorang atlet dari Boyolali berdiri di podium internasional sambil mempersembahkan medali untuk Merah Putih
Ikuti terus update seputar NPCI di sini!